Quote Me Today

Wahai diri akan dibawa kemana kaki ini nanti? Ke arah onak berduri atau hamparan indah yang menyenangkan hati?

1.12.11

Miss you to death

Tutt…tut..tutt.. Hp itu memang sepertinya sudah dibuang ke laut… arrghhh… menyebalkan.. Puput menggerutu, cemas rindu benci semua menjadi satu. Sudah 2 bulan ini ia tidak bisa menemui Dimas. “Maaf mba, bukannya kami melarang tapi mas Dimas saat ini sedang dalam masa karantina yang serius, virus dalam dirinya benar-benar sudah akut. Malah nanti takutnya menular kepada mba. Tapi saya janji kalau mas Dimas kondisinya sudah lebih baik saya akan memberitahukan mba. Nomer hp yang ada di bagian administrasi masih aktif kan?” Suster Ina, dari papan badgenya, berusaha menenangkan Puput. “Saya hanya ingin melihatnya dari dekat sus, menggenggam tangannya, kali aja dia bisa merasakan kehadiran saya, mungkin bisa jadi dope untuk bikin dia cepet sembuh” bujuk Puput lagi.. Suster tersenyum dan menggeleng pelan “Maaf mba saya permisi dulu, masih banyak yang harus saya lakukan. Mba yang sabar ya” suster pergi tanpa menunggu Puput berkata-kata lagi. Bahkan kali ini ia sama sekali tidak dapat melihat Dimas, walaupun cuma lewat kaca display.

Damn Dimaass… why are you so stupid siihhh, aku udah bilang kalau mo nyoba make ya jangan banyak-banyak, lihat nih akibatnya.. kamu OD kaya gini… Udah gitu keluargamu juga kacau lagi, ngga ada gitu yang empati sama kamu… Puput berkata lagi dalam hati. Lalu mencoba kembali menghubungi nomer Hp tadi.. “Halo..??” finally… Puput berujar dalam lagi “Ya haloo, maaf saya Puput temannya Dimas. Ini Lisa kakaknya Dimas kan?” Puput mencecar karena takut sambungan telpon akan hilang lagi “Iya aku Lisa, kayanya aku pernah denger nama kamu deh dari Dimas, eh tapi sori aku lagi di Belanda nih, roamingnya mahal, kamu sms aja deh ada perlu apa. Bye”

Arrgghhhh… hampir saja Puput membanting Hp nya. Ya Tuhan Dimaas kasihan amat sih nasibmu, udah di antara hidup dan mati tapi kamu cuma di temani mbok Wati… Keluarga macam apa sih kalian.. Puput memasuki mobil dan membanting pintu, menstarter lalu melarikan mobil dengan kencang menuju Jakarta..

“Dimas butuh cuci darah seminggu sekali” ingatannya melayang ke dokter yang menerangkan.. kalau aku punya kekuatan super aku akan hisap semua racun dalam darahmu Mas, lalu menggantinya dengan yang baru, kalau aku punya kekuatan super aku akan tarik jiwamu lalu kita menari di bawah air hujan seperti saat sekarang ini… Puput menyalakan wiper mobil, kota hujan ini memang selalu hujan.. ia mengingat kembali masa-masa berdua dengan Dimas, nongkrong di Lembang yang dingin, membeli kelinci dan membawanya makan wortel di lapangan Gedung Sate… tertawa di kebisingan sore di Dago… kapan lagi ya Mas kita kaya gitu, bagi aku itu romantic bangeeettt… Puput mengerjap matanya yang mulai berkaca-kaca. Ingatannya kembali ke enam bulan yang lalu, ketika ia masih bisa menyentuh Dimas, yang terkulai lemas di ranjang Rumah Sakit

“Beb, kamu masih disini, kamu ngga kuliah?”
“Aku dari tadi malem disini, nemenin kamu Mas” Puput tersenyum dan duduk di ranjang
“Kamu kurus banget, matamu juga celong, kamu udah ngga tidur berapa hari beb?” Puput terenyuh menderngarnya
“Eh tapi banyak kok aku lihat cewe yang matanya celong, kulitnya hitam tidak terurus, lebih celong dari kamu beb” Dimas bekata lagi takut Puput sedih dengan keadaannya yang memang belakangan ini agak kurang dirawat karena ia sendiri sibuk merawat Dimas
“Masa?”
“Hooh”
“Bohoonggg” Puput mencubit kecil lengan Dimas, sebenarnya itu hanyalah cubitan biasa ketika mereka sedang bercanda tapi pada saat itu cubitan itu berasa seperti pukulan telak bagi kulit Dimas
“Aww sakit beb”
“Upsss maaf beb, ngga sengaja” Puput benar-benar mengkhawatirkan keadaan Dimas yang bertambah parah

“Apa sus? Mereka bawa kemana Dimas?” dua minggu kemudian ketika Puput mengunjungi Panti Rehabilitasi tersebut ternyata Dimas sudah tidak ada disana
“Sudah dibawa seminggu yang lalu oleh keluarganya mba, katanya sih mau diobati di Luar Negeri, memang mba tidak diberitahu?”
Puput menggeleng pelan

Ya Tuhan kemana mereka membawanya? Dimas maafkan aku karena baru sempat kemari, tugas kampus lagi banyak banget

Ia melangkah gontai ke dalam mobil. Kali ini tidak membanting lalu melarikannya karena ia seperti tidak punya kuasa untuk melakukan itu. Kali ini ia hanya diam, dan membiarkan air mata turun dengan derasnya

Andai saja 1 tahun yang lalu Dimas tidak termakan rayuan teman-temannya untuk mencoba barang-barang haram itu pastilah mereka saat ini sedang berlibur, mungkin sedang bersnorkling di Gilitrawangan, mencari mutiara di kerang yang tertutup atau mengeluarkan bintang laut dari kehidupannya yang tenang membawanya ke pantai. Tanpa perduli kepada petugas yang berteriak agar kita tetap menjaga habitat laut. Atau mungkin kita sedang berteriak-teriak diatas gedung pencakar langit. Tidak perduli bila diusir petugas. Ya Dimas dulu kita tidak perduli pada dunia karena kita hidup di dunia kita sendiri. Tapi kamu merusak semuanya Dimas.. And you messed me up!!!

And now I don’t know where you are.. apakah kamu terpenjara menunggu kematianmu?? Apakah kamu dikelilingi orang-orang yang hangat? Mungkin aku akan berhenti memikirkanmu Dimas, maybe it’s too wasting for me, I’m tired with all the time you taken from me.. although I’m dying to meet you.

No comments:

Post a Comment

leave ur track so i can visit u back :)