Quote Me Today

Wahai diri akan dibawa kemana kaki ini nanti? Ke arah onak berduri atau hamparan indah yang menyenangkan hati?

23.4.14

Bejana Pelangi

"Kamu yakin mau ke dalam? Tidak takut tertangkap?" Makhluk hijau tua dengan tinggi sebaya tidak setuju dengan keinginannya.

"Aku ingin sekali melihat pembuatan cahaya-cahaya itu. Sebentar saja, tidak akan lama. Kamu jaga di sini ya? Kalau ada mereka kamu kasih tanda."

"Tanda apa?" Mata sangsi tapi tetap mau menolong temannya itu bertanya.

"Humm apa ya... Batuk sajalah. Ya sudah aku masuk sekarang. Nanti aku ceritakan apa yang aku lihat." Berbeda dengan temannya yang sangsi. Si hijau ini terlihat excited. Sebentar lagi keinginannya tercapai.

Tanpa menunggu jawaban, perlahan dia membuka pintu, mengendap-ngendap ke dalam ruangan berdinding putih. Kilatan cahaya terlihat dari ruangan lain, perlahan dia melangkah ke sana dan menemukan bejana besar di tengah ruangan.

"Waahh indahnya." Tanpa ragu dia mendekat, menaiki tangga, melongok ke dalam bejana. Kumpulan warna bergerak, kadang berputar pelan seperti pusara, kadang bergelombang. Cemasnya terkalahkan oleh takjub, spontan tangannya menyentuh warna, menimbulkan riak kecil.

Entah bagaimana namun cahaya-cahaya itu menempel, mengubah tangan hijaunya menjadi ungu kuning merah muda...

 Ia terhipnotis, melupakan kata-kata yang pernah didengarnya dulu. 

"Bagaimana kalau aku masuk ke bejana ini ya? Nanti badanku berwarna-warni juga. Pasti yang lain akan kaget." 

~ 0 ~

"Pah lihat ada pelangi!" Akhirnya ada sesuatu yang mengalihkan perhatian Vitra dari sahabatnya - PSP.

Abrali melirik, diam sesaat lalu menjawab, "Bagus ya." Jawaban setengah hati dan senyum kecut yang belum bisa dipahami anak sekecil Vitra.

"Buagus bangeett..." Ini kali pertama Vitra melihat pelangi secara langsung, wajar saja kalau dia takjub.

Abrali semakin tercekat.

"Asalnya pelangi itu apa ya Pah?" Vitra masih terkesima dengan kumpulan warna yang nyata di ujungnya, namun semakin ke atas semakin memudar, "Aku belum belajar itu di sekolah," tambahnya membela diri, takut dikira lalai akan pelajarannya.

"Ehem... Pelangi ituu pembiasan warna. Kalau kamu melihatnya dari atas kamu akan melihat lebih banyak warna daripada yang kamu lihat saat ini." Perkataan Abrali lebih ke dirinya sendiri. Namun Vitra tidak terlalu memikirkan jawaban itu, ia masih asyik memandang pelangi yang jaraknya semakin dekat.

Dekat...

Bertambah dekat...

Semakin mendekat.

Jalanan yang lengang membuat mobil mereka melaju tanpa hambatan.

"Pah, kita di bawahnya!" Vitra mencondongkan tubuhnya ke dashboard, wajahnya mendongak tinggi. Mobil mereka melewati pelangi yang membentuk setengah lingkaran. "Whuaahh kereenn."

Abrali hanya tersenyum melihat putra kecilnya terkagum-kagum akan sebuah fenomena alam. Sama seperti dirinya dulu, terkagum bahkan terobsesi...

hingga menjadi seperti sekarang ini.

~0~

"Heii, sedang apa kamu?!"

"Uh-eh-eee..." Makhluk kecil hijau yang tertangkap basah itu memilin-milin ujung pakaiannya, sayap nya mengepak pertanda cemas.

"Kamu sedang apa?" Tanya makhluk hijau yang berukuran lebih besar sekali lagi.

"Tidak, tidak sedang apa-apa."

Tapi jawabannya yang ragu tentu saja tidak bisa diterima oleh si hijau besar, dengan senyum menyeringai dia menundukkan badannya, "Kamu mengintip ya?" Mata bulat sebening kristal itu terlihat jelas dalam jarak pandang yang hanya beberapa inci.

"Tidak, akku hanya ssedang." Si kecil pun menyadari bahwa nada suaranya sedikit bergetar.

Si besar, yang tampaknya menikmati ketakutan itu semakin mengintimidasinya, sambil menyeringai dia berkata, "Tidak usah berbohong. Aku sudah lama mengawasimu, kamu si tukang intip. Ingin sekali tahu apa yang kami lakukan di dalam sana. Ingin sekali tahu bagaimana cara membuat kumpulan warna yang membentang di langit. Iya kan? Ha-ha-ha." Dia berbicara dengan satu kali tarikan nafas, menutupnya dengan haha yang lebih terdengar seperti ejekan dibanding tawa.

Si kecil semakin menyusut, bersandar pada pintu 'kramat' yang membuatnya dapat mendengar sedikit perbincangan dari dalam ruangan.

"Begitu cantik perpaduan warnanya. Tuhan memang indah dan mencintai keindahan." Sayup-sayup terdengar suara.

"Cantik namun berbahaya, jika kamu tercebur ke dalam nya, kamu akan muncul di bawah sana, tidak akan bisa kembali ke sini. Berubah -- untuk selamanya." Sahut yang lain

"Selain indah Tuhan memang Maha Segalanya." Suara pertama kembali berkata.


~0~


"Aaaaakkhhh" Suara berdebum mengakhiri teriakan panjangnya, "Adduhh" Spontan ia mengelus punggungnya yang sakit.

Rumput tebal terhampar, langit terbuka, jelas ia bukan berada di dalam ruangan tadi.

Sakitnya tertutupi oleh rasa lain. "Ini-di-mana?"

"Heeii lihat ada anak kecil di situ." Dari kejauhan terdengar suara, lalu langkah-langkah kaki berlarian mendekat.

"Kamu siapa?" Seseorang dari mereka bertanya, di antara engahan lelah.

"Iya, kami belum pernah melihatmu." Seru anak lain.

"Iya aku juga." Yang lain lagi ikut berbicara.

"Jadi kamu siapa? Kok tiba-tiba ada di sini?" Satu-satunya anak perempuan dengan dress selutut bertolak pinggang di depannya. Ikut-ikutan bertanya.

Dia mengangkat bahu, yang masih terasa sakit akibat jatuh. "Aku... " Dia mendongak ke atas.

"Kamu mengejar pelangi? Kami juga." Sekarang anak perempuan itu bersikap lebih ramah. Yang lain juga tertawa-tawa sambil sesekali melihat ke pelangi. Anak-anak yang berwarna sama dengan kulitnya, putih kecoklatan, tidak ada sayap ataupun kaki besar. Ia penasaran apakah matanya juga sama dengan mereka. Apakah ia berubah menjadi seperti mereka.

"Heii kamu belum memberitahu siapa namamu."

Aku... Berasal dari pelangi? Pikirannya berbisik. Aku berasal dari pelangi.

Ditatapnya mereka satu persatu sebelum menyebutkan namanya. Nama baru yang mulai saat itu disandingnya... sebagai manusia.


 ~ 0 ~


9.4.14

Resep Pencuci Dosa dan Obat Penyakit Hati

Hasan Basri rahimahullah berkata "Pada suatu hari aku mengelilingi lorong kota Bashrah dan pasarnya bersama seorang pemuda ahli ibadah. Ditengah perjalanan aku bertemu dengan seorang tabib. Dia duduk di kursi yang dihadapannya ada banyak orang baik laki-laki maupun wanita serta anak-anak, yang semuanya membawa botol berisi air. Setiap seorang dari mereka bermaksud meminta obat yang tepat bagi penyakit yang mereka derita. Selanjutnya majulah seorang pemuda yang ahli ibadah itu kepada tabib tersebut, lalu berkata "Wahai tabib, apakah engkau mempunyai ramuan obat yang dapat membersihkan dosa dan mengobati penyakit hati?" tabib tadi berkata "Punya", pemuda itu berkata lagi "Tolong berilah aku obat tersebut". Tabib menjawab "Ambillah sepuluh resep dariku berikut ini :

1. Ambillah akar pohon Kefakiran dan akar pohon Ketawadhu'an (rendah hati)
2. Masukkan akar Tobat ke dalamnya
3. Masukkanlah ketiga unsur itu ke dalam lesung Ridha
4. Tumbuklah sampai halus dengan alu Qana'ah (menerima dan merasa cukup)
5. Masukkan semua dalam panci Taqwa
6. Tuangkan air Malu ke dalamnya
7. Didihkan semua itu dengan api Mahabbah (cinta)
8. Selanjutnya, tuangkan semua itu dalam mangkuk Syukur
9. Dinginkan apa yang ada dalam mangkuk syukur tersebut dengan kipas Raja' (harap)
10. Minumlah semua itu dengan sendok Pujian

Jika engkau dapat menyelesaikannya, maka semua itu akan menyelamatkan dirimu dari berbagai jenis penyakit dan musibah di dunia dan akhirat.

1.4.14

IMAM AL GHAZALI ( Kitab Ihya Ulumuddin, 12/2199 ) mengisahkan, 

bahwa suatu saat seorang raja mengatakan kepada seorang yang zuhud, Apakah engkau butuh sesuatu? Orang zuhud itu pun menjawab, Bagaimana aku memerlukan sesuatu darimu sedangkan kekuasaanku lebih besar dari kekuasaanmu.

Si raja pun terheran dan bertanya, Bagaimana bisa demikian? Orang zuhud pun menjawab, Karena tuanmu adalah hambaku.

Si raja bertanya-tanya, Kenapa demikian?

Orang zuhud itu pun menjawab, Tuanmu adalah syahwatmu, marahmu, kegembiraanmu dan perutmu. Dan itu semua telah tunduk kepadaku, mereka adalah budakku.