Quote Me Today

Wahai diri akan dibawa kemana kaki ini nanti? Ke arah onak berduri atau hamparan indah yang menyenangkan hati?

31.1.13

Tanggal terakhir di bulan terawal

Sebelum saya membuncahkan kata-kata, izinkan saya menyapa dulu ya...

^__^  Assalamu'alaikum... Kaifa haluk ya sahabat? Bagaimana kabar kalian? Hampir 3 minggu tidak menyempatkan diri untuk memposting. Bukan! Bukan karena saya tidak punya bahan postingan. Sebaliknya, kotak draft saya masih banyak, tinggal tekan publish saja untuk mengejawantahkan keberadaan saya di dunia maya ini :P

Terus kenapa NF? Hhmm... sibuk, :D hanya 1 kata untuk mewakilkannya.

Hari ini tanggal terakhir ya di bulan terawal tahun 2013. Untuk kalian yang selalu memulai tahun masehi dengan Resolusi, bagaimana resolusinya? Sudah sedekat apa untuk menggapai impian itu? Kalau saya... Awal tahun ini tidak seperti Januari kemarin. Ketika dengan gegap gempitanya mengikuti event J50K yang diadakan Kampung Fiksi. Dan di hari ini, di tahun kemarin, saya sudah berhasil menulis sebanyak 50 ribu kata lebih, dengan total 221 halaman A4. Tapi itu tahun kemarin, karena tahun ini saya tidak ikut event tahunan itu. Sibuk. Lagi-lagi dipakai sebagai pembelaan diri.

Seperti halnya tahun kemarin, awal tahun ini juga dibuka dengan hujan (sehujan hujannya). Siklus banjir lima tahunan itu datang lagi. Bahkan lebih parah, terbukti dari jalanan depan rumah saya yang juga kebanjiran (hehe maklumlah orang awam, jadi barometernya tidak jauh-jauh :P). Semua orang panik, takut, menyalahkan, apa lagi tersebar berita kalau tanggal 27 Januari, banjir akan lebih dahsyat. Tapi, Alhamdulillah 27 Januari terlewati dengan cerah.

Yah wajar saja kalau saat itu penduduk Jakarta panik, takut, cemas dan sebagainya. Namun satu hal yang saya kurang setuju, yaitu menyalahkan. Menunjuk orang lain untuk ditimpakan kesalahan yang telah dilakukan secara berjamaah. Jokowi. Beberapa kali saya melihat, di social media, ada yang menyalahkan Gubernur Jakarta yang baru menjabat sekitar 3 bulan. Humm... konyol. Jokowi kan bukan manusia super yang bisa langsung membereskan masalah tahunan dalam tempo singkat. Terus terang saya bukan penggemar Jokowi (but i respect and salute for him), tapi secara logika beliau tentu tidak mampu menyulap Jakarta menjadi bebas banjir dan macet. Butuh waktu. Jadi marilah berikan waktu sampai selesai masa jabatannya :)

Kejadian lain yang sulit dilupakan di Januari ini adalah... Farhat Abbas dengan kicauannya, putusnya Yuni-Raffi, atau Raffi dan 16 orang lainnya yang ditangkap karena tuduhan Narkoba. (Ups, napa jadi infotainment :P)

Yah, begitulah rangkuman saya di tanggal terakhir di bulan terawal ini. 

Welcome February

14.1.13

Buah Lai

Ibu-ibu itu... nggak di mana nggak di mana kalau lagi ngobrol pasti seruu dan selalu ada info baru. Seperti halnya kemarin, ketika lagi asyik chat di grup. Salah satu temanku berkata kalau dia jadi kepingin makan buah Lai. Sontak yang lain bertanya apa itu buah Lai?

Lalu teman yang lain langsung mengirim gambar ke grup.

ini dia penampakannya

Ooo ternyata buahnya seperti durian, namun dagingnya lebih kuning.
Setelah aku googling, ternyata selain kuning ada juga yang berwarna merah.

merahnya menggugah banget yak

Kata temanku sih, buah Lai ini enak, nggak terlalu manis, nggak bikin eneg atau pusing kepala seperti durian, aromanya juga nggak menyengat. Tapi... kata suamiku buah Lai nggak enak! *yang bener yang mana nih? („ »̶___«̶ „)  (balik lagi ke selera sepertinya).

Buah Lai sampai sejauh ini sih baru ada di Kalimantan, tapi walaupun produk lokal buah Lai ini ada nama Latinnya looh yaitu Durio Kutejenis. Hmm... dinamakan seperti itu karena mungkin buah Lai ini berasal dari Kutai - Kalimantan Timur.

Jadi pengen nyobain ​‎​(⌣́_⌣̀)

9.1.13

Maukah kau menunggu?

Lima bulan, oh bukan tapi enam bulan lalu, ketika kamu mengatakan ingin jalan sendiri-sendiri. Ya begitu bahasamu ; Jalan sendiri-sendiri. Hum kamu terlalu baik untuk memutuskan hubungan kita, jadi kamu menghaluskan kata. Padahal artiannya tetap saja sama. Kamu meninggalkanku Titik.

Awalnya sulit menerima itu, tapi aku laki-laki, pantang bagiku untuk menghiba. Walau keinginan itu ada. Kamu kan tidak tahu betapa aku rindu akan suaramu, candamu. Langkah-langkah panjang kita yang walaupun berjauhan tapi tetap saja aku merasa dekat.

Aku sudah mulai melupakanmu. Menjalani hari dengan lebih banyak melakukan yang aku suka, meski salah satu kegiatan yang paling aku suka kini tidak ada lagi. Yaitu bersamamu.

Tapi...
Pesanmu tadi pagi membawaku ke kebersamaan kita dulu. Kamu bilang apa? Ibumu mencariku? Menanyakan kenapa aku tidak pernah datang lagi? Hei ada apa ini? Sejak kapan ibumu suka akan kehadiranku, bukannya beliau selalu melirik sinis jika aku bertandang. Aku masih ingat bagaimana ibumu menyindir dulu, katanya aku tak pantas untukmu. Hhh saat itu hubungan kita seperti di sinetron, keluarga yang tidak restu versus kekasih yang mencinta. Apalagi, keluargamu menganut doktrin kesukuan, alias lebih senang mendapat menantu bukan dari suku ku. Ah manalah aku tahu dari suku mana aku akan dilahirkan. Kenapa hal-hal seperti itu masih saja dibahas di zaman yang katanya sudah modern ini? Tapi aku mengalah, menjauh dan membiarkanmu bebas memilih. Lima bulan, aku biarkan kamu sendirian, menata hidupmu sekaligus -mungkin- mencari belahan jiwamu.

Senang, tentu saja itu yang ku rasakan ketika pesanmu terbaca. Gundah, di sisi hati yang lain aku merasakan itu. Harus bagaimana aku sekarang? Datang ke rumahmu untuk mencairkan kembali hubungan kita dulu? Kira-kira... berapa lama orang tuamu menerimaku sampai mereka kembali tidak menyukaiku? 

Jadi sebelum rasa sayangku kembali penuh kepadamu, ada baiknya kamu merespon kata-kataku dulu ; 

"Perasaanku tidak pernah pudar, hanya membeku sesaat. Kini kamu seolah mencairkannya kembali. Tapi maukah kamu menunggu dua tahun lagi untuk menyatukan perasaan kita? Diskusikanlah dulu dengan kedua orang tuamu. Bila mereka merestui, aku akan datang dua tahun lagi, dengan keluargaku dan seorang penghulu. Tapi bila keluargamu tidak mau, katakanlah sekarang agar aku bisa menata hati dan perlahan mengubah perasaanku ini."

6.1.13

Kangen Penguin

Mungkin ini agak berlebihan tapi beneran loh... saya kangen sama si penguiinnn. Walaupun penguin cuma jadi template saya, dan walaupun durasinya belum ada setahun, tapi kookk saya kangen ya sama geol-geolnya itu, sayangnya pas saya cari lagi itu penguin udah nggak ada :'(

Demi mengobati rasa rindu, saya mau posting tentang penguin aja deh :(


Penguin itu termasuk jenis burung. Tapi dia nggak bisa terbang. Sayapnya dipakai untuk berenang dan keseimbangan ketika dia berjalan.

Ketika penguin berenang di lautan, dua warna tubuhnya bermanfaat sebagai kamuflase. Warna putih menyamarkan penguin dari pemangsa yang ada dibawahnya (karena warna putihnya seolah pantulan air) dan warna hitam untuk mengelabui pemangsa yang sedang berada di atasnya. Jadi penguin aman dari serangan hewan lain.



Mata penguin bekerja lebih baik di bawah air, sedangkan untuk di darat mereka lebih mengandalkan telinga.

Jenis penguin sekitar 18 jenis (sepertinya terus berkurang), salah satunya yang ada di Happy Feet, Madagascar atau Mr. Popper's Penguin.

Penguin itu ramah loh, sama manusia pun begitu. Dan penguin ini solid, kalau ada seekor betina yang mencuri anak penguin dari betina lain, betina itu akan dikeroyok oleh betina-betina lain. Jadi tawuran deh hihi.

Yang mengerami telur bukan betinanya, melainkan si jantan, kira-kira selama 2 bulan penguin jantan menyimpan telur di bawah kakinya. Sedangkan si betina pergi mencari makan. Ouh romantis kaann :P

Meluncur, selain menyenangkan bisa juga sebagai salah satu cara untuk menghemat energi bagi penguin. Hmm sayang manusia nggak bisa meluncur, yang ada lecet-lecet ya :D

Katanya, pernah ada suatu masa dimana penguin berwarna merah kecoklatan dan abu-abu, tingginya sekitar 2 meter. Waww....

Kalau manusia mengatakan "Say it with flower." Tapi tidak bagi seekor penguin, dia hanya perlu menunjukkan dadanya dan memperlihatkan ada cinta di sana. Ouh ouh.



Tapi sayangnya penguin semakin punah karena es terus mencair : sehingga mereka kesulitan mencapai daratan dan akhirnya kecapekan lalu mati di lautan, juga alasan berkurangnya stok makanan, berkurangnya tempat memperbesar anak-anak mereka, termasuk suhu udara yang menghangat sehingga telurnya sulit menetas. Dan semakin punah juga karena terkontaminasi minyak di laut atau telur-telurnya yang dicuri manusia  :( 
 
Hmm... mungkin suatu hari nanti penguin akan benar-benar nggak ada, seperti halnya penguin animasi geol-geol yang nggak berhasil saya temukan.


2.1.13

Penampakan

Mungkin orang mengira kalau þunyα six sense itϋ cool, tapi bagiku tidak. Not cool at all. Bagaimana mungkin melihat bayangan tanpa kepala bisa dikatakan cool? Sesosok manusia yang penuh darah dan tidak bertangan lewat ϑi depanmu tapi kau harus pura-pura tidak melihatnya agar dia tak mendekat. Kau mematung, membiarkannya lewat, bernapas sepelan mungkin seolah dengan begitu dia tidak menyadari keberadaanmu. That's not cool.

Aku sering meminta kepada Tuhan untuk dicabut saja 'kelebihan' ku itϋ, tapi sampai detik ini, aku masih bisa melihat mereka. Padahal bisa dibilang hampir setiap hari aku harus pulang malam. Còbα kau bayangkan, berapa banyak sosok yang berseliweran ϑi sekitarku. Aku harus apa? Memejamkan mata? Bisa-bisa tidak lama kemudian aku sudah bergabung dengan mereka gara-gara tertabrak mobil.

Sebenarnya mereka juga menyadari kelebihanku ini. Αϑα beberapa yang mendekat tapi langsung menjauh lagi ketika ku katakan, "Tolong jangan ganggu aku, aku pun tak mengganggumu." Lalu kenapa sosok ϑi belakangku sekarang sepertinya tidak мαυ pergi? Padahal aku sudah mengatakan kalimat andalanku itϋ. Kenapa ia justru semakin mendekat? Ya Tuhan, bulu kudukku sampai meremang. Aku tak berani menoleh, walaupun aku bisa menduga kalau sosoknya buruk sekali.

"Jangan ganggu aku." Aku beringsut menjauh, parahnya bus yang aku tunggu belum datang. Setengah sembilan. Belum terlalu malam, belum waktumu menakut-nakuti orang. Batinku.

"Aku hanya ingin berteman." Tiba-tiba sosok itϋ berkata, tengkukku dingin. Kakiku membeku, seolah terperosok dalam es ϑi Arktik sana.

"Maaf aku tidak bisa." Mulutku bergerak pelan, berbanding terbalik dengan detak jantungku yang sangat kencang.

"Kenapa?" Sepertinya ia semakin mendekat, bulu kudukku sudah mencuat, seperti bulu landak, mungkin bila balon menyentuhnya, balon itϋ akan pecah.

"Manusia tidak berteman dengan kalian." Aku sengaja menyebut kalian karena -walaupun tatapanku lurus ke depan- aku bisa melihat beberapa dari mereka mendekat. Termasuk gadis cilik berbaju terusan warna orange dengan boneka ϑi tangannya, gadis yang sering ku lihat menangis ϑi bawah jembatan penyebrangan.

"Kenapa kalian tidak berteman dengan kami?!"

Deg! Tiba-tiba sosok itϋ sudah berada ϑi depanku. Ya Tuhan, dengkulku lemas. Aku kaget sekali, tidak menyangka dengan gerakannya yang melesat. Untung jantungku buatanMu, kalau buatan China pasti sudah copot. Arghh....

"Karena dunia kita berbeda." Sekuat tenaga aku menjauh darinya, menghentikan bus yang akhirnya datang juga. Dengan sisa-sisa tenaga aku melompat ke dalam bus, duduk ϑi bangku kosong yang paling dekat denganku berdiri.

Aku menarik napas lega. Cukup untuk hari ini. Dan untuk selamanya, aku harap tidak αϑα lagi komunikasi dengan makhluk astral seperti itϋ.

Aku merogoh tas, mencari receh ketika kenek bus mendekat. Tanpa melihat aku sodorkan uang lima ribu rupiah kepadanya. Kenek itϋ memberikan kembalian sambil berkata, "Jangan takut, dia memang sengaja mengganggumu. Besok-besok sebaiknya kamu nggak nunggu bus disitu."

Kontan aku mendongak, wajah penuh tanyaku hanya dijawabnya dengan senyum. Ia pergi sambil mengedikkan bahu.

~THE END~