Quote Me Today

Wahai diri akan dibawa kemana kaki ini nanti? Ke arah onak berduri atau hamparan indah yang menyenangkan hati?

1.12.11

Bunuh aja Gue sekalian!!!

“Rista, kamu tuh keterlaluan banget deh, kan aku udah bilang kalau jangan PAMER mesra didepan aku…” “Iya deehh maaf, abisnya masa aku nolak Yoga, nanti dia curiga J” tidak sampai semenit Rista menjawab BBM-ku.. bukannya kami saling berjauhan malah sebaliknya, Rista duduk didepanku, menyilangkan kaki jenjangnya dan sesekali menyeruput jus markisa kesukaannya.. Yah beginilah nasibku, jadi ‘simpanan’ dari pacarku sendiri, pacar yang sudah punya pacar, pacar yang dulunya sahabatku lalu kemudian kami menyadari bahwa kami saling suka lebih dari sekedar sahabat

Ini adalah kali ketiga Rista membawa Yoga ke kampus dan kumpul bersama Gank kami, yah seharusnya aku tidak menyalahkan dia karena teman-teman yang lainpun membawa pasangannya. Kami enam sahabat berusaha meleburkan pasangan masing-masing agar tidak ada cemburu antara persahabatan dan perpacaran, kecuali aku dan Anto yang tidak punya seseorang yang bias diperkenalkan, dan plus Santi yang baru saja putus dengan Rio


Dan seperti kali-kali sebelumnya aku jadi galaauu dengan keberadaan Yoga… Feel so awkward… cepat-cepat aku tweet timelineku. Dan tidak berapa lama Rista pun melirikku, sepertinya dia sudah baca timelineku itu

“Eh youtube dong youtube” aku menutupi kejengahanku dengan berkata pada Seno
“Mau lagu apa lo?” kami memang meluangkan waktu bersantai kala waktu kuliah sudah usai, dan tempat favorit adalah Saung Mang Engking, mungkin memang agak mahal untuk anak kuliahan tapi. Tempatnya asik dan romantis (aku membayangkan aku hanya berduaan dengan Rista, duduk dipojokan, saling memandang, dengan background suara air dan kecipak ikan berenang… aiihh indahnya dunia)
“Dewa dong, udah lama nih ngga denger Dewa”
“Dewa yang Cemburu kayanya asik nih” Seno sepertinya mendengar jeritan hatiku dan langsung mengklik tombol Play

Tringg.. bunyi BBM masuk, ternyata dari Rista. Isi BBM nya cuma “:P”… Yeap cuma tanda melet… Errrr aku gemeess dengan tingkahnya yang seenaknya itu, dia tahu aku cemburu tapi dia malah meledek. Ya Tuhan kenapa aku bisa jatuh cinta sama bidadari berhati kejam seperti ituu..

“Yoga, aku pulangnya bareng Deni aja deh, aku mau cari buku di kwitang. Dan lagikan kamu ada perlu lagi”
“Bener ngga papa?” Yoga melirik aku, tampak bahwa dia tidak ‘mengendus’ hal yang mencurigakan di antara kami berdua. Dan Rista mengangguk mantap

“Kenapa bareng aku?” aku berlaga sok ngambek
“Abisnya kamu bete gitu, aku kan jadi ngga enak”
“Ya iyalah, aku kan pacar kamu… juga” aku masih merajuk
“Atau sekalian aja ya aku bilang ke Yoga kalau aku pacarmu.. kaya lagunya Dewa tadi” lanjutku tanpa memberikan kesempatan pada Rista untuk membela diri
“Ih apaan siihh… Awas aja kalau kamu berani” Rista terlihat panik

meskipun aku pacar rahasiamu
meskipun aku selalu yang kedua
tap aku manusia
yang mudah sakit hatinya

aku bernyanyi dengan suara pas-pasan
“Aww…” dan berhenti bernyanyi ketika Rista mencubit lenganku

“Maafin aku ya Den, aku ngga maksud nyakitin kamu kok. Tapi aku harus gimana dong? Aku juga sayang sama Yoga”
“Iya ngga papa, I’ll do anything to make you happy” so sweet banget kan aku?? Padahal dalam hati terkadang aku berkata.. Bunuh aja gue sekalian Rista!!!

“Ckckckck salut banget sama abang gue ini, mau-mauan di ‘poliandri’” si tomboy Meta, adikku satu-satunya yang mengetahui hubungan gelap ini meledek

“Ini nih alasan gue males ketemu si Rista kalo dia maen ke sini, males ngeliat tampangnya yang inosen tapi sebenarnya bandit, mendingan lo sama Santi. Santi kan naïf gitu modelnya makanya dimaenin melulu sama cowok.. hehe”
“Tapikan cantikan Rista, lebih modis, lebih pinter”
“Pinter maenin perasaan orang?? Huff paceedd” dia keluar kamarku
“Paced?? Apaan tuh??”
“Capedeeeeeehhh” dia berteriak, meninggalkan aku yang masih galau dengan hidupku
“Eh by the way, seinget gue lo dulu juga pernah yah jadi yang kedua. Waktu di SMA tuuh sama Tantri. Tantri yang pacarnya anak basket itu… Hmm emang kasihan banget sih nasibmu nak Deni” ternyata Meta belum puas meledek diriku dan dia memutuskan untuk kembali ke kamarku, berkata seperti itu lalu lari kencang menghindari bantal melayang

Yah lengkap sudah kegalauanku saat ini, dan kali ini aku menyalahkan kedua orang tuaku yang menyekolahkan kami berdua di sekolah yang sama… Well aku memang bisa menjaga adikku, tapi ternyata diapun mengawasi per-cinta-an-monyet-SMA-ku

Mungkin memang nasibku
Yang slalu menunggu
Untuk jadi yang pertama

Terngiang-ngiang kembali suara falsetnya Once yang malah bikin tambah mellow… Sambil berkata dalam hati “Hmm gile malu-maluin para laki-laki tulen nih kalau ditindas sama wanita seperti ini… Maafin ya Benjamin Franklin, maafin ya Karl Marx, Benito Musolini, dan minta maaf yang terbesar kepada Bung Karno…”

No comments:

Post a Comment

leave ur track so i can visit u back :)