Quote Me Today

Wahai diri akan dibawa kemana kaki ini nanti? Ke arah onak berduri atau hamparan indah yang menyenangkan hati?

25.11.15

Dari Hunger Games Mockingjay Part 2 sampai Novel Series Yang Lain

Ada banyak film yang diadaptasi dari Novel Serial contohnya Twilight, The Lord of The Ring, The Chronicles of Narnia atau Percy Jackson.

Bagi pencinta novel, novel serial itu ibarat bernyawa. Seperti ada yang patut untuk ditunggu dalam hidup ini. Hihi mungkin terdengar agak lebay yaa... tapi kenyataannya memang mendekati seperti itu loh. Flash back ke masa lalu ketika Harry Potter belum rampung di buku ke 7. Setiap tahunnya saya dan jutaan pencinta Harry Potter menunggu novel berikutnya. What's on next

Seperti belum cukup dengan membaca novelnya, filmnya pun ditunggu-tunggu. Dan setelah novel sekaligus film nya sudah tamat yang ada timbullah perasaan lega dengan happy endingnya sekaligus pertanyaan novel apa lagi yaa yang bagus untuk diikuti?

Yang sedang happening saat ini dari novel yang diangkat ke layar lebar yaitu Hunger Games - Mockingjay yang dibagi menjadi 2 bagian. Part 2 nya baru tayang minggu ini. Sudah nonton kah? Saya sudah looh dan dengan senang hati menceritakan kembali. Bagi yang ingin tahu silakan baca di sini saya ulas lengkap untuk kamu :D





Setelah Hunger Game rampung. Will be the next film selanjutnya yang berasal dari novel series adalah :

1. City of Bones

gambar dari sini

Novel yang ini saya sudah 'hatam' membacanya tapi baru difilmkan seri pertama saja yang berjudul City of Bones dan mengalami kendala pada pembuatan film kedua berjudul City of Ashes. Mungkin tidak ada film layar lebar untuk buku-buku selanjutnya karena Mortal Instruments akan diadaptasi ke drama seri TV. Well... we'll see.

2. Maze Runner

gambar dari sini

Jujur saya tidak membaca novelnya tapi filmnya cukup seru, ending yang membuat penasaran jadi ingin membaca novelnya. Sequel keduanya baru saja tayang pertengahan tahun 2015 ini.

3. Divergent

gambar dari sini


Yang ini juga saya tidak membaca novelnya tapi suka banget dengan filmnya bahkan sampai menyempatkan diri untuk menonton sequel yang berjudul Insurgent di bioskop. Saya juga jadi membayangkan kalau saya hidup di era itu akan berada di Faksi mana kah saya? Amity yang cinta damai atau Candor si Penegak hukum atau Abnegation yang berjiwa sosial tanpa pamrih atau Erudite yang pintar atau Dauntless si Pemberani atau bahkan Divergent itu sendiri atau jangan-jangan saya gagal tes dan berakhir di Factionless? Psstt... ini intermezzo saja bahwa ternyata ada loh tes untuk menentukan termasuk di faksi mana kah kita, daann... teng-treng-tereengg... saya adalah Divergent berarti saya tidak jadi orang buangan alias Factionless hihi. 

klik di sini untuk mencoba

4. Supernova

gambar dari sini


Dari dalam Negeri kita punya Dee Lestari yang novel serialnya cukup fenomenal walau novel pertama tidak lepas dari kritik tapi Dee berhasil membuat pembaca ketagihan dan menunggu novel berikutnya, termasuk saya walaupun saya tidak beli sendiri alias novel pinjaman dari Zie ( kalau ada yang ingin pinjam silakan contact Zie saja yaa ^^) 

5. The Giver

gambar dari sini


Nah yang ini juga tidak kalah seru. The Giver adalah buku pertama dari novel Quartet dengan judul pada gambar di atas. Saya kurang update jadi baru tahu ada novel ini setelah menonton film nya di FOX. Ketika saya tonton feeling sih mengatakan kalau film ini pasti dari novel serial dan ternyataa benar! Alur cerita film yang diangkat dari novel itu berbeda dengan film pada umumnya apalagi novel berseri, biasanya pencinta film dan buku tahu itu.

Oke deh itu dia lima film yang berasal dari novel yang masih saya tunggu kelanjutannya. Ada yang mau menambahkan?


22.11.15

Ketika 'IYA' Menjadi Sebuah Pertimbangan Panjang

Hari ini seharian terpampang berita seorang selebriti yang baru saja menikah. Pernikahan mewah berlatar kontroversial, yeah orang-orang menyebutnya begitu karena si selebriti dinilai ‘not even good looking’ menikahi seorang pria tampan dan umurnya jauh lebih muda dari si selebriti itu sendiri. Si pria tampan dianggap menikah hanya karena harta, aku pun sempat berpikiran sama. Ups maaf kalau aku jadi ikut-ikutan memberikan penilaian sadis.

“Naaah mereka saja bisa menikah dan bahagia. Kenapa kamu tidak? Kapan sih kamu mengambil keputusan untuk mengiyakan permintaan mas Chandra?!”

Kakakku sedang merintis menjadi seorang model, andai memiliki rupanya mungkin aku juga akan berusaha menjadi model atau selebritis. Sayangnya, wajahku ini biasa saja, postur tubuh juga tidak terlalu tinggi dan... mungkin agak sedikit gemuk untuk ukuran seorang model.

“Lapar Kak?” Dia mengelus-elus perutnya, tipikal kalau sedang lapar.

“Sudah makan buah tadi.” Itulah rahasia tubuh langsingnya, mengkonsumsi protein, karbohidrat atau lemak hanya dengan porsi sedikit. “Kamu jangan mengalihkan pembicaraan ah. Tahun depan kita sudah tidak punya tabungan untuk memperpanjang sewa rumah. Pendapatanku belum banyak yang bisa disisihkan apalagi gajimu yang hanya sebagai guru.” Ketika berbicara denganku dia bisa begitu ‘sarkasme’ tapi berubah seratus empat puluh derajat apabila sedang bersama agen modelling atau teman-temannya di luar sana. Tidak apa-apa sih toh aku sudah terbiasa. “So?

Aku mengangkat bahu, “what?

Ck!” Ia berdecak sebal, “mas Chandra bagaimana?”

“Ooo... entahlah. Aku tidur dulu ya.”

“Tuhkan selalu seperti itu, ini menyangkut masa depanmu Eliana Putri Manggaru!” Dia masih mengoceh ketika aku masuk kamar tapi suaranya teredam dinding, maaf ya kak kepalaku selalu pusing ketika membicarakan mengenai mas Chandra. Hmm beliau itu lebih cocok dipanggil Pak daripada Mas karena umur kami terpaut tiga belas tahun.

Selamat malam Na. Sudah tidurkah?

Panjang umur, baru saja dibicarakan pak Chandra sudah mengirim pesan.

Saya hanya ingin memberitahu kalau besok Kevin tidak masuk sekolah karena ada urusan keluarga, ingin menjemput Damira. Tidak apa-apa kan?

Seorang murid berprestasi dengan keluarganya sebagai salah satu penyumbang dana sekolah meminta izin untuk tidak masuk? Ya tentu saja tidak apa-apa!

Boleh kok... besok saya beritahukan ke Miss Fatma selaku wali kelasnya ya.

Terimakasih Na, kamu sedang apa? Saya mengganggu ya?

Aku sedang pusing memikirkan pertanyaanmu minggu lalu yang hanya terdiri dari empat kata, ‘maukah kamu menikah denganku?’

Baru hendak tidur nih, besok saya mengajar pagi.

Mungkin salahku yang seperti memberi harapan, pertemuan-pertemuan kami kemarin di luar jam sekolah memberi kesan bahwa hubungan kami bisa lebih dari pertemanan.

Ooh baiklah kalau begitu, selamat beristirahat ya Na.

Selama mengenalnya aku mendapat kesan kalau pak Chandra bukanlah playboy atau don juan. Beliau kharismatik, mungkin perjalanan hidupnya membuatnya sangat dewasa dan bijaksana. Ia tidak pernah mengatakan mencintaiku atau merayu dengan sejuta kata-kata gombal tapi ia begitu perhatian, sikap apalagi matanya menunjukkan kalau perasaan itu memang ada. Hhhfff... andai perbedaan umur kami tidak terlalu jauh mungkin aku akan dengan senang hati menjawab pertanyaannya itu.

Haloo sayangku yang cantik, sudah tidur belum? Aku ingin menelpon nih. Kangen berrraattt.

Kalau yang ini aku tergila-gila. Pria tampan, keren dan hanya lebih tua dua tahun dari ku.

Kamu di mana? Aku belum tidur and available to phone call.

Pesanku terbaca dengan cepat dan secepat itu pula handphone ku berbunyi. Romeo is calling.

~OOO~

“Na, aku mau ke Batam sampai tiga hari ke depan.”

“Ada event Kak?”

“Yup, photo session sekaligus peresmian butik baru. Tidak semua sih hanya aku, Prilia, Dimas, dan Romeo. Masih ingatkan dengan mereka?”

“Masih,” apalagi dengan Romeo, tanpa kakakku ketahui bahwa temannya itu telah menjadi pacarku. Romeo meminta agar hubungan ini dirahasiakan terlebih dahulu.

“Kenapa senyum-senyum begitu?” Katanya sambil mengalungkan ID Card bertuliskan Arsyana Dara Manggaru.

“Ah tidak apa-apa. Jadi selama tiga hari ini aku boleh memakai mobilmu kan?”

Ia sudah selesai berkemas, kopernya yang menggembung kepenuhan diangkatnya dengan susah payah ke ruang tamu. “Minta jemput saja sih dengan mas Chandra.”

Mendengar nama itu semangat pagiku berkurang sekian persen.

“Beliau sedang menjemput anaknya.”

“Wooww sepertinya lancar nih komunikasi kalian.”

Dibalik sikap Arsyana yang menyebalkan aku tahu kalau ia hanya menginginkan yang terbaik untuk kami berdua. Setelah kepergian mama dan papa dalam kecelakaan pesawat otomatis kami menjadi anak yatim piatu. Om dan tante hanya peduli ketika warisan peninggalan mama papa dan uang asuransi ganti rugi masih ada. Setelah kami lulus kuliah keluarga besar mama papa kompak ‘mengusir’ kami dari rumah-rumah mereka, katanya sudah cukup kami dimanja dan sekarang waktunya mencari uang sendiri.

“Tintiinn...” Suara klakson mobil terdengar pertanda jemputan dari agency model tempat kakakku bernaung sudah datang.

Ia membuka pintu tepat ketika Romeo hampir mengetuknya. “Romeo? Mau apa? Menjemput aku?”

“Eh... eee... mau menumpang ke kamar mandi.”

Sebisa mungkin aku menyembunyikan tawa. Tentu saja kakakku bingung melihat Romeo berdiri di pintu rumah karena ritual jemputan biasanya hanya membunyikan klakson tanpa satu orang pun turun dari mobil.

“Kamar mandinya di sana, mari aku tunjukkan.” Romeo mengikuti langkahku. Ia mengedipkan mata ketika memasuki kamar mandi, membuat pipiku merona.

Arsyana mengangkat kopernya yang berat ke bagasi dan langsung duduk di dalam mobil. Romeo keluar dari kamar mandi dengan senyum mengembang. “Aku hanya tidak tahan untuk tidak bertemu denganmu my sweety.” Hampir pingsan mendengar kata-katanya kalau saja suara klakson tidak kembali terdengar, beberapa orang di dalam mobil memanggil Romeo termasuk kakakku. “Sampai bertemu minggu depan yaa.”

Call me.” Ia merespon permintaanku dengan kembali mengedipkan mata. Pagiku menjadi lumer dengan cinta. Tapi moment itu tidak berlangsung lama karena harus cepat berangkat. Sekolah Dasar International tempatku mengajar terkenal disiplin tidak hanya pada muridnya tapi juga kepada para guru. Mereka sangat menjaga kredibilitas sekolah. Aku tidak keberatan dengan hal itu karena ketika menetap di rumah om dan tante mereka pun memperlakukan kami bagai prajurit perang. “Kedisplinan adalah kunci kebahagiaan, bagai sebuah investasi untuk masa depan.” Kata om Syahril entah ia mengutip dari mana.

Berbicara mengenai investasi jadi teringat kalau sore ini ada janji dengan marketing financial. Kakakku benar bahwa gajiku tidak seberapa tapi belajar dari pengalaman kemarin ketika kami menjadi yatim piatu berlimpah harta namun berakhir dengan habis untuk membiayai hidup kami, aku memutuskan untuk menyisihkan sedikit pendapatan di investasi atau deposito, entahlah yang mana karena belum terlalu mengerti kelebihan dan kekurangan antara keduanya.

Morning Miss Eliana.” 

Aku sampai di sekolah bertepatan dengan bunyi bel tanda pagar akan segera ditutup. Satu hari lagi terlewati dengan penilaian baik, sebulan lagi raport penilaian akan keluar dan menentukan apakah aku akan menjadi guru tetap atau tidak. Sebagai guru kontrak di sekolah ini saja pendapatanku sudah lebih besar daripada guru kontrak di sekolah lain, apalagi kalau menjadi guru tetap. Uang sewa rumah mungkin tidak akan membebani kami lagi.

~OOO~

Pertemuanku dengan si marketing financial terpaksa batal karena tiba-tiba saja kepala sekolah memanggil.

“Silakan duduk Miss Eliana.”

“Baik Pak.” Dengan tegang aku duduk di hadapan Pak Sutopo.

Agak lama ia diam dengan dahi berkerut, membiarkanku duduk seperti pesakitan sampai akhirnya ia berkata, “Sebenarnya urusan pribadi seorang guru bukanlah tanggung jawab pihak sekolah, tapi hal itu bisa memicu masalah ketika guru-guru lain membicarakan guru tersebut di belakangnya, mengungkit-ungkit perihal moral sampai mendesak pihak sekolah untuk bertindak.”

Kalimat implisit yang tidak dapat aku simpulkan maksudnya.

“Sebelumnya saya ingin bertanya apa benar Miss Eliana menjalin hubungan dengan salah satu wali murid?”

Aku menghela nafas, mulai tahu arah pembicaraan ini. “Saya termasuk guru yang dekat dengan wali murid Pak. Terkadang mereka menghubungi saya untuk menanyakan perkembangan anak-anak mereka.” Jawabku normatif.

“Tapi di antara wali murid itu adakah yang paling dekat dengan Miss Eliana?” Dahinya semakin berkerut, mungkin di lain kesempatan yang agak santai aku bisa mengusulkan botox agar penampilannya tetap terjaga.

“Maaf Pak, saya kurang mengerti arah pembicaraan ini. Sebenarnya apa yang merisaukan Bapak dan guru-guru lain?”

“Ehmm... ada aduan yang masuk ke saya bahwa... Miss Eliana berhubungan dekat dengan Pak Chandra, walinya Kevin.”

Walaupun aku sudah menduga tapi tetap saja ada yang mencelos di hati, aku memikirkan raport penilaian.

“Pak Chandra sangat menyayangi cucunya, beliau memantau Kevin dengan bertanya kepada saya...”

“Tapi Miss Eliana kan bukan wali kelas Kevin.” Nada suara Pak Sutopo masih tenang walau kalimat itu menohok.

“Baik Pak saya minta maaf kalau itu dianggap melanggar peraturan sekolah.”

“Oooh tidak, itu bukan masalah untuk saya tapi kedekatan kalian secara personal yang menjadi masalah. Bahkan saya mendengar bahwa pak Chandra telah melamar Miss Eliana. Apakah itu benar?” Aku menciut di kursi panas. “Begini Miss... saya mengerti bahwa cinta atau perasaan itu tidak bisa diatur dan dibelenggu, tapi ada peraturan di sini bahwa para pengajar tidak bisa menikah dengan wali murid. Pilihannya hanya dua yaitu pengajar atau murid tersebut yang keluar dari sekolah ini. Miss Eliana pastinya paham kalau hal itu ditujukan untuk kebaikan bersama, agar tidak ada conflict of interest atau pilih kasih di sesama murid. Saya menyayangkan apabila Miss Eliana sampai harus keluar dari sekolah, menurut catatan yang saya dapat dari bagian administrasi Miss Eliana termasuk pengajar yang berdedikasi tinggi dan mempunyai masa depan yang cerah di sekolah ini.”

Aku hanya menunduk dan diam mendengarkan, entah ia tahu apa tidak kalau kata-katanya menguras sisi emosionalku. Sekuat tenaga aku menahan air mata sampai Pak Sutopo menyilakan aku pergi setelah kalimat-kalimat panjangnya.

Dari Fatma aku mendapat informasi bahwa pihak sekolah benar-benar mempertimbangkan keberadaanku, katanya bahkan sekolah mengkategorikan hal ini sebagai skandal walaupun Pak Sutopo sudah menyiapkan surat referensi dan rekomendasi ke sekolah lain karena track record ku sebagai pengajar dinilai baik.

“Pak Chandra sudah menduda sangat lama. Damira ibunya Kevin pernah mengatakan bahwa mereka telah menjodohkannya dengan beberapa wanita tapi pak Chandra menolak. Sudahlaah terima saja lamarannya.” Dibanding guru lain Fatma memang teman yang paling dekat. “Beruntung banget deh elu Na, ibaratnya seperti kejatuhan durian runtuh.”

“Sakit doong... yang ada gue luka-luka tertimpa durian runtuh.” Jawaban kekiku disambut tawa oleh Fatma.

“Ya sudah terserah elu mau menerima beliau atau tidak, tapi yang harus jadi pertimbangan adalah karier elu di sini sudah tidak lama lagi. Feel sorry to say but it is true.”

~OOO~

“Maaf Mbak bisa diulang penjelasan mengenai kerusakan aset-aset berwujud tadi?” Sebenarnya malu berkata seperti itu, tapi lambaian tangan dan senyuman pak Chandra di balik pintu kaca mengganggu konsentrasiku dalam mendengarkan presentasi yang dibawakan marketing asuransi properti. Untungnya mereka dengan sabar mengulang semua informasi yang dibutuhkan apalagi aku baru dalam bidang ini. Setelah ‘pemecatan secara terhormat’ dari sekolah, pak Chandra menghubungiku dan menawarkan pekerjaan di salah satu perusahaannya. Beliau mengetahui semua yang terjadi melalui Fatma dan kembali melamarku.

“Maaf Pak untuk saat ini saya tidak bisa menerima lamaran Bapak.” Jawabku saat itu. Saya bukan gadis matre yang rela ‘menjual diri’ demi sebuah kenyaman, tambahku dalam hati. Beliau dengan legowo menerima alasan itu. Berbeda dengan kakakku tersayang yang begitu marah ketika aku menceritakan penolakanku dan bertambah marah ketika mengetahui bahwa aku berpacaran dengan Romeo.

“Ya ampun Naaa... kamu tidak tahu bagaimana Romeo ituu... Argghh... Dia itu player. Ceweknya banyak!” Kata-katanya mengingatkan kepada salah satu motivator yang berkata bahwa pria pintar merayu adalah pria yang tidak baik karena telah mempraktekkan rayuannya ke banyak wanita. “Better kamu tinggalkan dia sekarang karena aku tidak mau kamu patah hati. Sudah kehilangan pekerjaan patah hati pula. Mau jadi apa?!” Sarkasnya lagi.

“Baik Mbak akan saya diskusikan dahulu dengan pimpinan dan segera saya kabarkan hasilnya ya.” Aku menjabat tangan dua orang marketing itu, menunggu mereka membereskan bahan presentasi dan mengantar sampai ke pintu lift.” Dari jendela kaca aku melihat matahari yang mulai jingga. Di bawah sana jalan arteri sudah padat dengan kendaraan, para pekerja saling mendahului untuk pulang ke rumah.

“Bagaimana hasilnya?”

Suara lembut itu sedikit mengagetkan, aku belum terbiasa bekerja sebagai asisten sekertaris di perusahaan multi nasional, belum terbiasa bekerja di gedung tinggi dan juga belum terbiasa dengan seseorang yang belakangan ini membuat dadaku berdegup lebih kencang bila sedang berada di dekatnya.

“Presentasinya sangat memuaskan, mereka menawarkan begitu banyak profit dan kemudahan. Secara pribadi saya bahkan berencana untuk menanamkan investasi.”

“Oh ya?”

Aku mengangguk, “Deposito berjangka atau investasi di logam mulia. Tapi kalau melihat nilai tukar rupiah yang sering terdepresiasi sepertinya logam mulia lebih menjanjikan.”

“Wow kamu belajar dengan cepat ya. Berarti tidak salah kalau saya menawarkan kamu bekerja di sini.”

Kata-katanya membuat pipiku bersemu. “Ah Bapak bisa saja. Saya masih perlu banyak belajar.”

Ia mengangguk sambil berjalan menuju ruangannya, “Eliana... tawaran saya yang satu lagi masih berlaku. Saya tidak akan mengiming-imingi kamu dengan harta karena kamu tidak suka itu, tapi perasaan saya tulus kepadamu. Dan semakin ke sini saya semakin respect... and love.”

Untuk sepersekian detik aku merasa kalau jantungku berhenti berdetak. Setelah memutuskan Romeo, tidak ada lagi satu pria pun merayuku, sampai detik ini ketika mata itu menatap lekat bagai mengokohkan kata-katanya.

“Beri saya waktu satu bulan Pak.” Walau sudah mempunyai jawaban tapi sebelum aku mengatakan “Iya saya mau,” aku akan berhenti dari pekerjaan ini demi mencegah gosip-gosip yang tidak enak didengar dan dengan gaji yang telah aku sisihkan selama empat bulan belakangan aku akan membuka usaha mikro sehingga tetap mempunyai penghasilan sendiri. Aku ingin menikahinya karena cinta yang perlahan mulai tumbuh, bukan karena uangnya.

~OOO~

Happy anniversay first year Mas.” Aku mengeluarkan seloyang muffin dari oven. Harumnya menguar ke penjuru dapur. Mas Chandra tersenyum lebar. Ia pernah mengatakan kalau kue-kue buatanku sangat enak, bahkan tiap kali bertemu client bisnisnya ia tidak malu mempromosikan toko kue ku.

“Hmm pasti enak sekali, as usual.”

“Haha... coba dulu dong ini resep baru loh ada potongan apel di dalamnya, namanya Caramel Apple Muffin.”

“Nah kan dari namanya saja sudah ear catching. Aku pesan seratus cups untuk meeting minggu depan ya.” Kata-katanya semakin membuatku tertawa. 

Setahun sudah pernikahan kami dan aku semakin nyaman dengan hubungan ini. Walaupun ada kerikil kecil yang menghiasi jalan, kericil kecil berupa tanggapan sinis orang-orang yang menyimpulkan bahwa aku hanya menginginkan hartanya, tapi perlahan berjalannya waktu membuktikan bahwa aku bukan nyonya-rumah-istri-bos-kaya-yang-hanya-sibuk-bersosialita, aku membuktikan bahwa toko kue ku layak diterima masyarakat sehingga tidak perlu menadahkan tangan kepada suamiku dan mas Chandra cukup mengerti itu dengan memberikan nafkah dengan nominal yang ‘pantas’.

Kami memiliki harga diri masing-masing, cintaku tidak bisa dibeli dan ia pun tidak ingin membeli cinta karena kami sama-sama menyadari bahwa suatu hubungan yang berlandaskan materi hanya akan menyakiti.


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

18.11.15

Bagai Bus Antar Kota

Dimulai ketika menaiki bus di usia mu yang terhitung baru nol bulan, dan berakhir di terminal terakhir ketika bus berhenti entah di umur mu yang ke berapa.

Di dalam perjalanan begitu banyak rambu-rambu jalan yang harus dipatuhi bagai mematuhi peraturan yang telah dibuat oleh Ilahi. Suka atau tidak suka sang supir harus berhenti di lampu merah, menyalakan lampu sein jika ingin berbelok dan sebagainya, seperti hal nya suka atau tidak suka kamu harus mematuhi norma agama dan sosial jika tidak ingin celaka.

Banyak juga penjual yang menjajakan makanannya tapi tidak perlulah kamu beli semua. Cukup beli sesuai yang kamu butuhkan. Pengemis dan pengamen pun berlalu lalang mengharapkan uang recehan. Tidak beda jauh dengan hidup mu yang selalu bersinggungan dengan hal-hal berbau konsumtif dan menyentil jiwa kedermawanan.

Perjalanan dalam kendaraan dilewati dengan tidur, membaca buku, berbincang dengan teman sebelah atau sibuk dengan gadget di tangan. Fase dalam hidupmu juga seperti itu kan? Tidur untuk melunasi kantuk, membaca buku untuk menambah wawasan, berbincang untuk mengakrabi diri atau gadget dengan... Segala aplikasinya yang majemuk. Kamu pilih hidupmu diisi dengan apa?

Jalan raya tidak selalu bersahabat, ada kalanya hujan deras dan langit gelap membuat pengendara harus lebih berhati-hati. Ada kalanya kendaraan di depan lambat dan terkesan menghalangi kelancaran perjalanan kita. Ada kalanya kecelakaan terjadi dan kita hanya bisa melihat iba sambil terus berlalu, hanya bisa mengumandangkan lantunan doa untuk si korban tadi. Menuai hikmah kesabaran, mawas diri dan pasrah di sini.

Perjalanan penumpang berakhir di jalan yang berbeda, kenek bus membuka pintu dan menyilakan penumpang turun. Ada yang lega akhirnya tiba di tujuan dengan selamat, ada yang masih tergesa-gesa ingin segera bertemu orang yang ingin ditemuinya, ada yang sedih karena meninggalkan yang lain, dan ada juga yang masih berada di bus karena tujuannya belum sampai.

Hidup itu memang bagaikan perjalanan bus antar kota...


*ditulis dalam kendaraan menuju Jakarta.

21.10.15

‘Gagal Move On’ di Era Presiden

Pertama-pertama sebelum melanjutkan membaca postingan saya ini, saya minta kepada pembaca agar bersikap santai (kaya di pantai) karena ini cuma sekedar ‘sekelebatan’ pemikiran saya saja :)

pictfromhere 


Gagal Move On... 
Tiga kalimat itu pastinya sudah cukup akrab di telinga para netizen. Tiga kata yang biasanya menggambarkan kesedihan berkepanjangan setelah putus cinta. Tapi tiga kata kramat yang terkesan nelangsa itu kini bergeser arti setelah kita memasuki era Presiden yang baru, karena tiga kata itu tidak hanya disematkan pada para jomblo-jomblo yang ditinggal pacar tapi juga pada para pemilih dan atau simpatisan calon Presiden yang kalah.

Coba perhatikan berapa banyak tudingan ‘gagal move on’ yang dilontarkan para simpatisan Presiden. Banyak bukan? Kalau di Home Facebook saya sih banyak :D.

Jadi terbersit pertanyaan sebenarnya yang gagal move on itu kubu siapa ya?? Well maksud saya begini, suka tidak suka rela tidak rela pasangan Presiden & WaPres yang terpilih sudah satu tahun menjabat. Nah dalam satu tahun itu banyak kebijakan Pres & WaPres yang tidak sesuai dengan masyarakat, lalu apa salah kalau masyarakat melayangkan protes? Toh di era Presiden-presiden sebelumnya masyarakat Indonesia 'terbiasa' dengan berdemo, protes, mencibir, mencaci, menyalahkan, menghujat dan sebagainya ketika ada kebijakan yang dirasa cukup kontroversial. Tapi banyak juga kok keberhasilan mereka! Begitu kata simpatisan... yaa harus banyak dong sesuai janji kampanye dulu hehe... ups wait apa saya salah bicara? Oke saya ubah dengan... yaa harus banyak dong namanya juga jadi Presiden, tugasnya memang buanyaak buanget. Nah kalau yang ini terdengar lebih soft and tender tidak? :D

Nyatanya di era yang baru ini, masyarakat (khususnya netizen) seolah terpecah menjadi dua kubu yang berakhir dengan perang status yang tidak ada habisnya. Pendukung Pres & WaPres terpilih saat ini tidak terima dengan protes yang ditujukan kepada Presidennya, maka disematkanlah kata-kata ‘gagal move on’ ‘pasukan sakit hati’ dan sebagainya.  Nah dari sini lah pertanyaan saya muncul. Sebenarnya siapakah yang gagal move on? Apa benar pendukung capres yang tidak terpilih atau jangan-jangan pendukung Pak Pres yang merasa kalau saat ini masih era kampanye jadi apa pun kata-kata Pak Pres harus dimanuti?
Ups... sampai sini jangan mulai emosi ya... 

Coba deh renungkan sendiri bagaimana hidup (negeri) kita saat ini. Jadi apa salah kalau masyakarat menuding bahwa kebijakan Pak Pres itu tidak pro rakyat? Menurut saya, siapa pun Presidennya entah itu pilihan kita atau bukan yaa wajar-wajar saja kalau kita kritisi KARENAA kita semua yang merasakan dampaknya secara langsung. Bukan hanya pendukung Presiden terpilih.  



Intinya, ini bukan masalah gengsi untuk terus membela mati-matian idola kita, ini juga bukan saatnya untuk menghujat dengan serampangan capres yang tidak kita pilih. Ini saatnya kita mengawal, mengkritisi, memberi saran untuk kebaikan bersama, dan lebih baik juga kalau kita sama-sama berdoa agar para pejabat di istana sana bertindak atas nama rakyat. Karena mereka adalah wakil rakyat yang dipilih untuk mengabdi kepada rakyat, bukan kepada golongan tertentu. 

Last but not least... jangan mau ah kita rakyat Indonesia yang punya semboyan ‘berbeda-beda tapi tetap satu’ dipecah belah demi kepentingan segelintir orang.

Salam damai.


12.9.15

Kumpulan Quote Saya



Titik di mana pasanganmu berkata; “sudahlah aku lelah.” Adalah titik dia menyerah akan hubungan kalian. Lepaskan atau perbaiki.

|||

Barokah adalah suatu keadaan yang mendekatkan kita kepada Allah, baik sedang susah atau berlimpah.

|||

Doa adalah cermin jiwa maka berdoalah yang baik-baik agar jiwamu menjadi baik.

|||

Aku hanya kumpulan atom yang sering bertolak belakang. Menghindar ketika kau datang dan mencari bila kau menghilang.
|||

Dunia yang sempit itu adalah dunia yang isinya hanya kenangan tentang mantan. Move on dong! Karena mantanmu belum tentu masih mikirin kamu.

|||

Ketika segala upaya telah dilakukan namun belum menghasilkan… Saat itulah waktunya memasrahkan.
|||

Tanyalah pada hatimu karena ia adalah sejujurnya kamu.

|||

Aku adalah manusia yang sangat lemah dan ingin sekali menyandarkan semuanya pada Yang Maha Kuat… Allah Azza wa Jalla
|||

Hal yang paling baik dari dua orang yang saling mencinta adalah menikah, kalau tidak bisa menikah ya jangan cinta. Titik.


Note : Lontaran kalimat ketika menanggapi suatu kondisi dari seseorang