Quote Me Today

Musibah yang kamu rasakan hanya seujung kuku, nikmat yang kamu dapatkan seluas samudra.

16.6.12

Mari sepakat untuk tidak sepakat

Baru saja saya membaca artikel Pak Dhe Cholik yang berjudul Bumbu Persatuan Rasa Tawuran. Benar kata Pak Dhe, Bumbu Persatuan itu seharusnya tiga yaitu saling mengerti, menghormati dan menghargai. Tetapi kenyataannya pada saat ini ketiga rasa itu mulai luntur, jangankan menghargai orang lain, mengerti saja rasanya sulit, apalagi menghormati.

Pak Dhe mengatakan jaman sekolahnya dulu pun sudah ada yang namanya tawuran, tetapi itu hanya sebatas tawuran antar pelajar, yah seperti yang pernah saya lihat ketika saya SMA dulu, tawuran antar STM yang lokasinya berdekatan dengan sekolah saya. Para pelajar membawa batu atau ikat pinggang. Dengan berseragam putih abu-abu mereka berlarian dan saling kejar. Tetapi sepertinya Tawuran saat ini mengalami pergeseran arti, atau mungkin lebih tepatnya perluasan makna? Karena dewasa ini tawuran bukan lagi milik para pelajar, tetapi sudah meluas ke antar warga, antar suporter bola atau antar pendukung legislatif.

Miris sekali ketika saya menyalakan televisi dan melihat berita bahwa ada dua kelompok warga yang bertikai, senjatanya bukan lagi sekedar batu atau ikat pinggang melainkan senjata tajam seperti golok, clurit bahkan ada juga senjata api. Mereka tawuran di jalan raya, merusak fasilitas umum dan menutup jalan. Argh gemes sekali saya melihatnya, apalagi ketika saya melihat di bulan puasa ada juga kelompok warga lain yang bertikai, Astaghfirullah.. sebenarnya apa sih yang ada dalam pikiran mereka? Rasanya semua orang tahu, dari mulai anak kecil sampai orang dewasa kalau berpuasa itu hakikatnya adalah menahan diri, bukan hanya menahan lapar tetapi juga menahan emosi, lha terus kenapa bertengkar apalagi sampai tawuran? Tidak malukah dengan penganut agama lain?

Cara Memasang gambar disebelah isi postingan
Apakah tawuran menyelesaikan masalah? Sepertinya tidak! Justru  menimbulkan masalah baru, fasilitas umum yang dirusak harus diperbaiki,  itu berarti harus ada dana yang dikeluarkan. Motor atau mobil yang  dibakar, milik siapakah itu? jangan-jangan si empunya belum lunas  membayar. Miris sekali kan kalau kendaraannya itu justru dibakar orang.  Belum lagi para korban yang terluka atau bahkan sampai meninggal dunia.  Duh.. tidak ada keuntungan sama sekali dari yang namanya tawuran.

Lets agree to disagree.. Sepertinya kalimat ini harus mulai sering didengungkan di telinga masyarakat kita. Sepakat untuk tidak sepakat!! Berbeda pendapat tentu saja boleh, tetapi tidak perlu gontok-gontokan. Club bola favorit boleh saja kalah tetapi suporter tidak perlu saling berkelahi. Berebut kursi di pilkada boleh terjadi tetapi jangan sampai mengerahkan massa. Marilah kembali menjadi masyarakat Indonesia yang santun, ramah tamah dan tenggang rasa. Membicarakan suatu masalah dengan baik-baik dan menggunakan hati, karena apa-apa yang dikatakan dari hati pasti akan lebih mudah sampai ke hati.

Mari sepakat untuk tidak sepakat karena dari ketidaksepakatan itu akan tercipta suatu hal yang baru karena perbedaan adalah rahmat bukan bencana. Mari sepakat untuk tidak sepakat tetapi dengan cara yang elok dan mendamaikan seperti semboyan negara kita yaitu 'Berbeda-beda tetapi tetap satu'. Mari sepakat untuk tidak sepakat tetapi tetap menjunjung rasa saling mengerti, menghormati dan menghargai.

Artikel  ini untuk menanggapi artikel BlogCamp berjudul Bumbu Persatuan Rasa Tawuran tanggal 16 Juni 2012

98 comments:

  1. wah pertamax nich...saling menjaga kerukunan itu lebih baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. campur premium ya mba biar murahan dikit hehe

      Delete
  2. wah gemes tu sama orang yang tawuran, kalau kata una, pengen cubit tu pipinya... ampe terkelupas tu kulit kalau perlu ya...

    lomba ya ini, sukses dah ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. nyubit pake apa? tang?? ckckc sadis ih una :D

      Delete
  3. Tawuran cuma menambah masalah menjadi besar! itu sama aja ibarat api yang di lawan jadi api maka api itu akan membesar! lebih baik mengalah aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul Mi, sama2 marah malah tambah parah

      Delete
  4. aku sangat tertarik diparagraf terakhir.. sungguh indah aku baca..
    semoga aku bisa mengamalkannya selangkah demi selangkah...
    terima kasih pencerahannya...
    I like u..

    ReplyDelete
  5. Sahabat tercinta,
    Saya telah membaca artikel anda dengan cermat.
    Artikel anda segera didaftar.
    Terima kasih atas partisipasi anda.
    Salam hangat dari Surabaya.

    ReplyDelete
  6. Memang sungguh disayangkan. Indonesia yang terkenal cinta damai di mata dunia ternyata tidak bisa menjaga predikat itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup, mauan aja siih di provokatorii :)

      Delete
  7. di tempat saya ada anak kecil mainan hape kan, lalu ada lagu yang menarik telinga saya.. saya tanya lagu apa itu. dia jawab, ini lagu "mars tawuran".
    bener-bener ada itu. ati-ati untuk kita, kulturisasi tawuran benar-benar ada.

    ini buat kontes ya? asiik, semoga menang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. haah mars tawuran?? ckckck tuhkan berarti emang ada yang sengaja kan menyetting kita seperti itu, oknum tuh

      Aamiin

      Delete
  8. Intinya,beda partai, kampus, kerja, pendapat dll itu sama wajar yang penting masih menjunjung tinggi asas Bhinneka Tunggal Ika

    ReplyDelete
  9. rrrrrr, kotak komennya akhirnya muncul juga.
    ("=__=)

    inilah yg juga kerap bikin gemes mbak, perilaku masyarakat kita.
    Beda pendapat dikit, langsung deh, golok melayang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduh knp kotak komennya? lola kah?

      hooh ya.. balik lagi ke hukum rimba

      Delete
    2. yang lola koneksi internet saya mbak. hehe...

      Delete
  10. ngeriiii, jadi takut membayangkan masa dpn anak2 kelak. penanaman pondasi akhlak hrs diberikan dr awal...
    semoga Alloh selalu melindungi keluarga kita, amien

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup 'dibekali' dari rumah..

      Aamiin

      Delete
  11. baeklah.. saya sepakat untuk tidak sepakat, dan saya sepakat untuk tidak ada yang memprovokasi buat tawuran atau berantem2an.. hidup damai!

    ReplyDelete
    Replies
    1. okeh din saya juga sepakat :D

      Delete
  12. bukannya reda, malah makin gede masalahnya. ampun gusti

    ReplyDelete
    Replies
    1. pasti orang jawa, abisnya Gusti :D

      Delete
  13. Trus kalo tawurannya di Makassar, media koq sepakat ya makin menghembus2kannya. Sering tdk berimbang kelihatannya. Sampai2 suami saya beberapa kali dicalla sama temannya dari daerah lain: "Apa tidak malu? ... bla bla" katanya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. naah tadi juga saya udah menuliskan 1 paragraf tentang tawuran di sana mba, tapi saya hapus takut terkesan SARA. saya pernah membicarakan hal itu dengan suami, dia bilang "di Makassar kan panas jadi orangnya gampang emosian, ga kaya di daerah lain yang dingin, coba aja ga pernah kan ada berita kalau di Bandung ada tawuran? karena di sana adem jadinya orang2nya cooling down semua", suami saya cuma jawab begitu :D

      Delete
  14. aku kirim emailnya Nizar Ali lewat e-mail ya, semoga berkenan menjawab beliau ini.

    Moga-moga menang ikut jamborenya

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku maunya ym nya mba ami, bukan Nizar Ali

      makasih mba :)

      Delete
  15. saya setuju dengan akhir kalimatnya,memang susah untuk maanusia jaman sekarangmah mba,mudah mudahan saja semuanya bisa di atasi dengan hukum atau secara musyawarah.
    tks infonya.

    Happy bw.

    ReplyDelete
  16. Kunjungan malam. O ya, jangan lupa follow back ya? Saya sudah jadi follower #155 thanks :)

    ReplyDelete
  17. Pertikaian emang cara yang paling lama untuk menyelesaikan masalah. Terbukti dengan perang-perang terdahulu... Nampaknya makin hari makin menjadi.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup, kalau kata anak sekarang 'makin hore'

      Delete
  18. Ikut lomba sama pakde cholik juga ya mbak..?? sukses deh.. lombanya.. artikelnya top markotop.. saya juga tidak sepakat.. dengan masalah ini.. taawuran memang membuat dan juga menggangu ketentraman dan aktivitas umum..! memang dari dulu juga sudah populer,, dari sejak saya smp,, tawuran sudah menjadi makanan sehari2,, tapi saat itu saya memilih tidak ikut2an dan lebih baik menghabiskan uang jajan daripada ikut tawuran hehehe.. maklum makan mulu kerjaannye.. okeh.. deh.. mbak.. saya nyuci baju dulu nih.. mumpung masih malem.. ngantri di kosan.. hehe..

    ReplyDelete
  19. Kontes lagi, N? Bujug dah... #ambil senjata

    tawuran mah artinya emang kayak gitu, jadi bukan perluasan makna kalo cuma ngebahas peserta tawurannya. Entah itu pelajar, suporter, warga desa, dll... Dari dulu juga udah membudaya kok! :-P

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak2in postingan :P

      dulu mah warga ga tawuran kale, cuma anak sekolahan doang :P

      Delete
  20. Tapi ada juga tawuran yang berbau politik dan disengaja untuk mengalihkan perhatian/isu - isu negara lo. Intinya yang penting kita jangan mau diadu domba. Mari kita sebarkan rasa kasih sayang dan rasa kemanusiaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. naah itu juga tambah banyak tuh, kalo dulu kan jamannya orba bukan dengan tawuran untuk meredakan suatu isu, palingan di culik terus hilang :D

      Delete
  21. buset dah..
    ada kontes langsung ikut disikat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. mayan kan jadi nambahin postingan heehe

      Delete
  22. wew, sepakat untuk tidak sepakat, hmmm seperti ada kandungan konspirasi nih, hihihiy :p

    kalo dulu jaman sekolah, ada sebuah motto yg penah saya ingat jeng, yaitu "jangan sampe sekolah mengganggu tawuran", hihihiy, kalo sekarang udah ganti "jangan sampe pekerjaan mengganggu naek gunung", hehehehe, piss ya jangan di timpe :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. kandungan konspirasi? sok iluminati ah *hehe apa coba

      kaga di timpe cuma di jitak..

      Delete
  23. wah ganti kulit lagi mb, heheh..pantes pangkling ki aku. hehe

    emang susah yah.Klo bgni.
    malu kadang2 denger dan melihatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bosen sama casing yang lama :P

      iya saudara seiman setanah air tapi ribut.. fiuh

      Delete
  24. yg tawuran tu punya otak cuma buat pelengkap kepala doank... gak dibuat mikir...

    ReplyDelete
    Replies
    1. mikir sih, tapi mikirin gimana caranya menang dengan segala cara :)

      Delete
  25. Nice post sob.......^_^
    semua masalah tidak perlu di selesaikan dengan kekerasan....^_^

    ReplyDelete
  26. memang ilmu dibutuhkan untuk membangun kesadaran
    tak hanya itu, pengendalian ego juga dibutuhkan
    karena terkadang ego menutupi ilmu

    ReplyDelete
    Replies
    1. ilmu dan iman harus berjalan bersama-sama, karena kalau tidak ada sala satunya akan timpang

      Delete
  27. tapi seru mba....huhuhu saran deh, boleh aja tawuran, tapi slow motion.....berantemnya pelan-pelan....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah boleh juga tuh, slow motion lucu kali yak.. kalo ga yang doyan tawuran di suruh ke afganistan aja gimana? :P

      Delete
  28. waduh mau komentar apa ya,,jadi bingung,,jempol aja deh..he he he

    ReplyDelete
  29. mari sepakat cinta damai...bersatu kita teguh bercerai cari lagi biar dapat bersatu hehehehehe
    piss......

    ReplyDelete
    Replies
    1. cari lagi?? wiihh belum2 udah pengen cari lagi aja :D

      Delete
  30. wow, tawuran salah satu ciri rusaknya moral bangsa. dan ini tidak boleh dianggap sepele. perlu adanya tindakan antisipatif

    ReplyDelete
    Replies
    1. gimana mengantisipasinya ya? wong sama aparat aja udah berani

      Delete
  31. namanya juga manusia
    isi kepalanya beda beda
    memaksakan seragam sama juga ngajak tawuran
    hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. isi kepala memang beda-beda tetapi selain emosi dan rasa marah, Sang Pencipta juga memasukkan kasih sayang dan saling menghormati ke dalam kepala manusia :)

      Delete
  32. Sepakat deeeh...
    ketimbang ditimpuk sendal *lariii*

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga akan ditimpuk, sayang sendalnya hehehe

      Delete
  33. Kurang tegasnya orang tua, guru, dan petugas keamanan untuk mendidik dan mengarahkan anak ke hal yang positif.
    Ikut kontes ya sob, semoga menang ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup, emosinya di salurkan ke tawuran, mendingan ke olah raga ya sob atau kerajinan tangan gitu :D

      Delete
  34. perlu belajar dari anak TK mbak kali
    orang-orang yang tawuran itu
    hehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. anak TK emang paling keren, brantem.. nangis.. semenit kemudian udah main bareng lagi :)

      Delete
  35. ini artikel bagus.... semgoa menang ya... kita memang harus mengakui perbedaan itu dan tidak mennggapnya sebagai pemisah tapi pemersatu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya harusnya begitu ya pak, makasih

      Delete
  36. baca ini jadi ingat MIB 3, lets agree to disagree.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya saya pun dapetnya dari si penjahatnya itu :D

      Delete
  37. kemarin udah baca lewat hape sekarang bingung mau coment apa udah lupa haha.. *piz

    mari damai dimulai dari damai dengan diri sendiri, minimalisir ego dan emosi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. lain kali di catet aja biar ga lupa :D

      setuja

      Delete
  38. tawuran itu ga bangeeet, buang2 energi saja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah, mendingan ngeblog ya :P

      Delete
  39. Replies
    1. naah ngompakinnya itu harus dengan meminimalisir ego

      Delete
  40. smg semua elemen bs intropeksi diri..., terutama org tua tuh..., *smile

    ReplyDelete
    Replies
    1. :P belom2 udah nyalahin orang tua, kualat hehe

      Delete
  41. Masyarakat indonesia, masih banyak ya gan yg belum pada dewasa ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoi, tua itu pasti tapi menjadi dewasa adalah pilihan

      Delete
  42. Betul ..
    Budaya tawuran HARUS dihilangkan... Itu jelas membuat masa depan bangsa menjadi suram,,

    Salam ^ ^

    ReplyDelete

leave ur track so i can visit u back :)