Quote Me Today

Wahai diri akan dibawa kemana kaki ini nanti? Ke arah onak berduri atau hamparan indah yang menyenangkan hati?

8.6.12

Ibu.. Aku rindu

“Ismi mau melanjutkan kuliah dimana?” Ibuku bertanya di suatu sore, tangannya masih sibuk menggoreng tempe.
“Memang ibu punya uang?” tanyaku.
“Insya Allah ada, tidak banyak sih tapi cukup untuk pendaftaran kuliah. Dan untuk bulanannya Kak Fenti pasti mau membantu.. Uhuk.. uhuk.” Ibuku terlihat lemah, akhir-akhir ini mulai sakit-sakitan. Sebenarnya aku tidak tega tapi..
 
“Carilah kampus yang murah, yang penting kamu kuliah,” katanya lagi.

Antara senang dan khawatir akan keadaan ibu, aku mulai kuliah. Satu tahun berlalu dan kondisinya semakin terlihat tidak sehat. Ia sangat lemah.

“Dokter kan mahal, sudahlah tidak usah. Nanti juga ibu sembuh” begitu selalu ia berkilah. Tapi nasib berkata lain, beliau bukannya sembuh melainkan bertambah parah.

Di penghujung tahun 2003, aku dibantu tukang becak dekat rumah membopong ibu menaiki becak dan membawanya ke Rumah Sakit.

“Kenapa baru dibawa ke sini? Ibu kamu sudah stadium akhir.”
Masya Allah, stadium akhir?? Aku tak mengerti.
“Maksud Dokter?”
“Ibu kamu kena kanker, koq bisa kalian tidak menyadarinya?”
Astaghfirullahal’adzim rasanya aku mau pingsan.

*****

Aku dan Kak Fenti benar-benar sudah habis-habisan mengobati ibu. Dan dengan tegarnya beliau berkata “Ibu mau pulang, dirawat di rumah saja.” Aku teringat Ayah, andai ia tidak meninggalkan kami dan memilih perempuan lain, mungkin sekarang kami tidak sesulit ini. Maafkan kami Bu.

Terpaksa kami membawanya pulang. Bergantian aku dan kakakku merawat beliau. Kuliahku? Ah jangan kau tanya bagaimana nasib kuliahku, karena aku telah berhenti. Cukup D-1 saja yang aku tulis di Surat Lamaran Kerja. Tak menjadi soal aku bekerja sebagai buruh pabrik. Itu sudah cukup. Bagiku, Ibu lebih penting dari semua yang ada di dunia ini.

Di kala teman-teman sebayaku berkuliah, aku sibuk mengelap keringat di antara benang dan gunting di salah satu Perusahaan Garment. Ketika teman-temanku asyik berjalan-jalan ke Mall, aku berada di rumah menemani dan merawat Ibu.

Hari-hari menjelang kepergiannya kondisi Ibu benar-benar drop. Mungkin kalian akan jijik dan mual ketika kalian sedang makan tetapi ada seseorang yang berkata tidak pantas, tapi bagiku itu bukan apa-apa, karena aku terbiasa menghentikan makan malamku dan membersihkan kotorannya. Di akhir hidupnya, Ibu sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur, sudah kewajiban kami berdua untuk mengelap tubuh dan mengganti popoknya.

*****

Kini.. 9 tahun telah berlalu setelah ia tiada. Tetapi rinduku tidak pernah padam. Ibu, andai kau masih disini kau akan tersenyum bahagia melihat 2 orang cucumu yang sehat dan lucu. Ya aku telah menikah 6 tahun yang lalu tanpa disaksikan oleh kedua orang tuaku, bukannya aku tak mencari ayahku, aku justru menemukannya setelah pencarian panjang, tetapi yang aku temukan hanya namanya yang tertulis di sebuah nisan di daerah pekuburan, ayahku pun telah meninggal dunia. Namun kesedihanku terhapus oleh seorang pria baik hati nan shaleh yang melamarku. Tanpa memandang statusku yang miskin dan yatim piatu, keluarganya merestui kami dan menggelar resepsi yang cukup mewah. Aku merasa Allah selalu mempermudah langkahku, mempermudah kelahiran kedua anakku, mempermudah kami untuk membeli rumah dan lain sebagainya.

Alhamdulillah, aku merasa hidupku mulus dan penuh berkah. Apakah ini karena baktiku dulu kepada ibu? Entahlah, namun yang pasti dalam setiap sujud akhirku aku mendoakan kedua orang tuaku. Aku menyayangi ibu dengan kebesaran jiwanya, dan aku pun menyayangi ayah dengan segala kekurangannya. Ayah.. Ibu.. aku rindu kalian.

"Bunda.. bunda kenapa nangis?"
Ah ternyata aku melamun sampai tak sadar kalau putri kecilku sudah berdiri di hadapanku, "Tidak sayang, bunda tidak apa-apa." Ibu aku ingin sepertimu di mata anak-anakku.

*maaf kalau ada kesamaan nama/tokoh, ini fiksi :)

53 comments:

  1. tumben panjangan dikit dan isinya agak padat ga gantung =)

    Jadi inget neneeeeeek =(

    ReplyDelete
    Replies
    1. lagi mood :P

      ssssttt berisik :D *pukpuk

      Delete
  2. Pasti memang itulah imbalan karena baktimu kepada orangtua, Nak :)
    So touchy, serius...
    kalo Uzay inget nenek, kalo aku jadi inget ibu di rumaaaah. tangannya lagi sakit hiks (malah curhat)

    Rumahmu baru, Mbak? Lengkap sama penguinnya segala :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo berbuat baik/buruk sama ortu balasannya ga nunggu di akhirat, di dunia pun langsung terbalas, katanya sih begitu :)

      waduh sakit kenapa wury, semoga cepet sembuh ya Ibumu

      iya baru kemarin ganti hehe

      Delete
  3. menyentuh :)
    kalo membayangkan sosok ibu... masyaa Allaaah, akan tau jika sudah menjadi ibu :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau udah jadi ibu baru deh ya merasakan gimana susah senangnya :D

      Delete
  4. pinguinnya lucu...:*
    Oh bunda ada dan tiada dirimukan selalu ada di dalam hatiku....syallalala *fales mode on
    hhehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa aku juga sukaa *cubit pengu

      gpp deh fales juga asal jangan banyak2 yaa nyanyi nya mihihi

      Delete
  5. ih sedih nih jadinya, hmmmmptttt #masukin kaen pel ke idung, wew :P

    duuhh profilenya blm di cek nih jeng??? link mu jadi gak kedetek tau :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. set daah itu idung segede apahh.. :P

      kayanya udah deehhh :(( eh iya belum soalnya tadi lagi nyari kode buat si pengu jalan2 :P

      Delete
    2. hmm, pantesan tuh ada si pengu kebingungan mondar mandir, hihiy :D
      nah gitu dong, udah oks nih, siip jeng :P

      Delete
    3. iya dia kan pengu galau kekekek

      udah ya.. hore

      Delete
  6. wah aku baca tulisan terakhirnya ketawa, jangan di angap serius mba. hehehe, itu kemarin cuma becanda aja.. tapi seru ko ceritannya, ehm, koment apa y? wah susah dah ngebayangin bisa kaya gitu, ehm, semoga aja aku di beri kekuatan agar bisa setegai ia.

    emailku, drieant_18[at]yahoo.com, ok. di tunggu konfirmasinya ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh tapi emang bener loh, jadi aku menganggapnya sebagai saran hehe.. Aamiin..

      ok, terima kasih yaa :)

      Delete
    2. heheh, yaud. lakukan yang terbaik aja dah. btw ud ane acc rekomendasinya, tinggal dari pihak IBNnya ya, soanya keputusan di tanggan dia. ane bantu doa aja dari sni semoga di trima ya.. ok mba.

      btw di profil bloger bermasalah lagi ya mba, ga ada nama blog nya mba. cek aja lagi, ga tau kenapa. sering gitu jadinya.

      Delete
    3. udah ya? okay makasiihh..

      masa siihh?? kemarin udah dibenerin :(( iya nanti aku cek lagi makasih yaaa :)

      Delete
  7. ini fiksi ya,
    ceritanya sederhana, tapi mengalir dan dalem bener ceritanya, suka :)
    jadi inget ibu >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ini fiksi :), kalo ceritanya ribet butuh alur yang panjang hehe ;)

      Delete
  8. hemmmm semuga semua yang telah dilakukan mendapatkan ridhonya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ridhoNya atau ridhonya?? :D

      Delete
  9. jadi ingin bisa lebih berbakti pada ortu

    ReplyDelete
  10. "..ketika kalian sedang makan tetapi ada seseorang yang berkata tidak pantas.."
    saya agak terkesiap membaca ini. agak menodai karakter ibu disini, buat saya.

    selebihnya, sempurna!

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya cuma memberikan gambaran mengenai keadaan ibu yang sudah sangat payah, di sini saya ingin menekankan pengabdian si anak lewat kata2 "karena aku terbiasa menghentikan makan malamku dan membersihkan kotorannya".. sedangkan kata2 "..ketika kalian sedang makan tetapi ada seseorang yang berkata tidak pantas.." adalah untuk menekankan bahwa kadang kita suka diisengin sama teman, pas kita lagi makan tiba2 teman berkata "duh mau p*p, sakit perut, lagi diare" untuk sebagian orang kata2 itu menjijikkan apalagi ngomongnya pas lagi makan -,-"

      anyway, trima kasih pa zaaach :)

      Delete
  11. Kisah cerita perjalanan hidup dalam keluarga yg sangat mengharukan..

    ReplyDelete
  12. Akh...jadi pengen peluk mpok,,

    mpokk... aku juga rindu kamu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. me toooo *peluk guling eh peluk nay :P

      Delete
    2. Gulingku namanye vino lho...#pmaer :p hahaha

      Delete
    3. wkwkwkwk kamu termasuk GALAU ya? Guling Always Listening And Understanding :P

      Delete
  13. hadeuh..
    jadi pengen pulang.
    lama banget ga pulang kampung...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau kampungnya deket lumayan tuh 2 hari tapi kalau jauh.. hmm telpon aja kali yak :D

      Delete
  14. subahanalloh ... aku terharu sumpah walapun fiksi ... jadi kangen ibu ...

    ReplyDelete
  15. Bunda,
    Terberkatilah dirimu wahai bunda,
    Engkaulah salah satu anugerah terbesar yang Allah pernah turunkan di dunia ini,
    Karena ridho mu adalah rindhonya Allah SWT
    dan di bawah telapak kakimu, adalah surganya Allah SWT

    Bunda, aku rindu padamu...
    Bunda, aku sayang padamu...
    Bunda, aku cinta padamu..

    ReplyDelete
  16. dan aku kembali menjadi lelaki melankolis lagi setelah lihat postingan ini :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekali2 laki2 perlu melow hehe

      Delete
  17. akhirnya tidal happy ending... begitu pengabdian searing anak kepada ibunya... ceritanya bagus.. pinter suka dengan alurnya juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. nulisnya buru2 ya pak :D #typo

      yup anak yang berbakti :)

      Delete
  18. *berkacakaca :'(

    Jadi inget Dhana Widyatmika pula saya pas baca fiksi ini. Kisah berbakti pada ortu yg sampe sedemikian rupa, keren luarbiasa.

    Btw itu kolom komentarnya jadi simpatisan, saya yg baru baca apa emang baru diganti mbak? Dah mirip partai aja pake simpatisan :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. dhana widyatmika itu sopo? iya baruuu aja diganti hihi lucu ya :P

      Delete
  19. Jadi terharu mbak. Benar2 menggambarkan anak yg berbakti pd ibunya. . . .

    ReplyDelete
  20. Menyentuh sekali mbak, huhuhu...
    Kangen ibukkk...

    ReplyDelete
  21. jadi inget sosok ibu... dan ternyata kita akan selalu teringat sosok ibu sampai kapanpun, karena kita besar juga karena jasa ibu :)

    ReplyDelete
  22. wah kejadian yang sama aku juga dulu ingin melanjutkan sekolah SMA tetapi tetapi melihat kondisi keuangan keluar aku jadi engak tega terpaksa aku hanya ijazah SMP tetapi sebagai balasan nya aku harus menyekolah kan anak ku minimal sampai S1...(walau banyak bukti s1 bukan jaminan punya kerjaan )beruntung meskipun dengan hanya berijazah SMP aku bisa nyekolahin anakku sampai akhirnya sekarang lulus SMA dengan kerjaan sebagai EDiting foto wah kepanjangan yach koment nya ...salam kenal buat Author/penulis :D

    ReplyDelete

leave ur track so i can visit u back :)