[..
cerita sebelumnya]
"Kamu ngapain di Surabaya Mir, eee.. pacar kamu ya?" yah begitulah Bude Susan, orangnya ceplas ceplos. Tanpa disadari Amir ternyata mobil mereka bersebelahan
"Bukan Bude, ini majikan saya"
Ifa kaget dengan kata-kata Amir, begitupun Bude
"Apa? Majikan? Maksudnya?" intonasi Bude naik dua oktaf
"Saya kan sekarang nyupir Bude, demi Papa dan Nisa, demi kami bertiga agar bisa tetap hidup dikala saudara Mama tidak mau membantu"
Bude tersindir mendengarnya, dan memang itulah tujuan Amir. Ia sangat kecewa karena Bude, satu-satunya keluarga Mama yang tinggal berdekatan justru tidak membantu mereka dari keterpurukan. Nenek Amir yang telah lama meninggal dunia hanya memiliki dua orang anak, Mamanya dan Bude Susan. Keluarganya yang lain pun tidak tinggal di Surabaya atau Gresik. Bude Susan lah satu-satunya tumpuan Amir ketika ketika mereka mengalami kebangkrutan, tetapi tak dinyana Bude malah angkat tangan dan justru mengungkit kisah cinta Mama dan Papanya yang tidak disetujui oleh kedua keluarga
"Memangnya tidak ada pekerjaan lain apa selain menjadi supir? Kamu tidak malu? Dulu Papa mu kan pengusaha" kata-kata sinis Bude semakin membuat Amir sebal
"Yang penting halal" Amir menambahkan senyum pada kata-katanya "Duluan ya Bude" ia membukakan pintu untuk Ifa, dengan canggung Ifa masuk dan duduk di bangku belakang
Ifa ingin bertanya tetapi ditahannya demi melihat wajah Amir yang kaku. Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Gresik mereka tidak berbicara. Sesampainya di rumah Ifa Amir lah yang membuka percakapan
"Fa, sori ya tadi suasananya jadi ga enak"
"Itu Bude yang kamu ceritakan dulu?"
Amir mengangguk
"Ooo.. ya sih aku bisa mengerti kenapa kamu bersikap jutek seperti tadi, tapi.. pakai segala bilang kalau aku majikanmu, ih ngga banget deh didengernya"
"Lah memang kamu majikanku kan"
"Aku tidak merasa seperti itu, kita kan teman"
Mereka duduk di teras rumah. Mbok Ijah, pembantu Ifa membawakan dua gelas sirup dingin dan kue yang dibeli Ifa di Surabaya. Walaupun Amir bekerja sebagai supir di kantor, tetapi keluarga Ifa tidak pernah membatasi pertemanan mereka
"Ifa, aku mau tanya, boleh?"
"Ya bolehlah, silakan saja"
"Kamu.. koq baik banget ya sama aku, apa sebelumnya kita pernah kenal? Kamu tidak ada perasaan takut kalau-kalau aku ini penjahat atau penipu gitu..." Amir menggantung kata-katanya, ia tidak ingin terkesan meragukan kebaikan Ifa, dan Ifa menggeleng
Masih belum puas Amir bertanya lagi "Sebelumnya kita sudah pernah kenal belum sih?"
"Kamu kakak kelasku, waktu di SMA, kamu aktif di OSIS kan? Lalu aku lihat kamu lagi di Perpustakaan Kampus, beberapa kali aku lihat kamu di sana"
"Oh ya?"
"Yup, aku tidak mudah melupakan wajah orang, jadi waktu aku lihat kamu di Perpus aku langsung tahu kalau kamu kakak kelasku di SMA"
"Ooo begitu ya"
"Iya, makanya pas lihat kamu di pinggir jalan aku tidak sungkan membawamu ke Rumah Sakit, dan setelah itu aku lihat kamu lagi di pertigaan deket kampus"
"Koq aku bisa tidak tahu ya kalau aku punya adik kelas seperti kamu"
"Seperti aku? Maksudnya?"
Amir hanya senyum "Tidak ada maksud apa-apa yee" ia malu sendiri dan mulai salah tingkah, untunglah ia teringat kalau ada sesuatu yang harus diberikan kepada Ifa
"Oh iya, ini Fa, terima kasih ya"
"Apa ini?" Ifa tidak langsung mengambilnya
"Ambil saja, itu uangmu"
Ifa memasang ekspresi bertanya
"Aku bayar hutang pengobatanku dulu, kan aku sudah bilang aku akan menggantinya, sesuai seperti yang ada di bill, tapi maaf baru bisa aku bayar sekarang"
"Ih, apa-apaan sih, aku.."
"Sudah Fa, terima saja" Amir memotong kata-kata dan menyodorkan amplop tersebut lebih dekat ke Ifa, "Aku pulang dulu ya, see you tom" katanya lagi
Ketika Amir sampai di rumah kontrakannya yang sederhana ia mendapati sebuah mobil ber plat B di depan rumah. Keluarga papa, mereka ke sini? wow
Tok.. tok..
"Eh Amir, sudah pulang" Tante Cida menyongsongnya, rumahnya yang sempit menjadi sangat penuh dengan kehadiran Tante, Om serta Nenek dari Papa. Mereka mengungkapkan penyesalannya karena tidak bisa datang di hari pemakaman Mama, mereka pun sudah tidak mau lagi membahas hal-hal yang telah lalu, dan yang lebih penting mereka ingin membawa Papa, Nisa dan dirinya untuk tinggal bersama mereka
"Papamu bisa dirawat lebih baik Mir, Tante akan mengantarnya terapi setiap hari agar bisa segera pulih"
Amir melirik Nisa yang duduk disebelah Nenek, terlihat pancaran kebahagiaan diwajah adiknya, harapan akan kehidupan yang lebih baik
"Kamu bisa lanjutin kuliah kamu lagi Mir, atau kerja di kantor Om" Om Bagas pun ikut merayu. Ada sedikit penolakan dalam diri Amir, tapi kesehatan Papa lebih penting, ia pun mengiyakan permintaan mereka
~~~~
"Haloo"
"Halo"
"Kenapa? Tumben nelpon malam-malam"
"Mmm.. ngga papa, memangnya ngga boleh?"
"Hehe.. ya boleh aja sih"
"Fa.."
"Iya"
"Kamu.."
"Apa?"
"Bapak kamu tukang air ya?"
"Memang kenapa?"
Mereka kembali bertingkah seperti Nunung dan Sule
"Habis.. kamu telah membanjiri hatiku"
"Hahaha.. gombal banget sih"
"Fa.."
"Sudah ah males"
"Kali ini serius"
"Oooh, iya.. kenapa"
"Aku mau resign..."
Amir menceritakan yang tadi sore terjadi, entah kenapa tiba-tiba ia tidak mau berpisah dari Ifa, baginya Ifa seperti Malaikat yang diturunkan Allah ke bumi untuk memberinya tenaga dan solusi dalam memecahkan permasalahannya. Selama ini mereka memang hanya berteman biasa, dan baru saat inilah Amir merasakan bahwa ada perasaan lain selain itu
"Jadi, kamu mau pindah ke Jakarta?"
"For our own good Fa"
"Iya aku mengerti"
Hening untuk beberapa saat
"Ya sudah kalau begitu, sudah malam nih, aku mau tidur"
"Oh iya deh, maaf ya sudah mengganggu"
"Ngga juga, sudah ya.. duduu"
Ifa menutup telpon cepat-cepat, ia tidak mau Amir menangkap kesedihan dari suaranya
~~~~
Keesokannya ia datang ke kantor untuk mengundurkan diri, ia mengucap banyak terima kasih kepada Ayah Ifa yang telah begitu baik kepadanya lalu ia pun pamit. Dengan mengendarai angkutan umum ia menuju rumah Ifa, tetapi Ifa tidak ada
"Kemana ya Mbok, hari ini bukannya tidak ada jadwal kuliah?"
"Aduh Mbok ngga tahu, Non Ifa pergi dari tadi"
Ia mencoba menghubungi lewat telepon tetapi Ifa tidak menjawab
~~~~
Ifa membuka notifikasi tanda email masuk, ia tersenyum tetapi matanya berkaca-kaca. Jarinya menekan tombol reply dan mengetikkan satu kalimat singkat
Masih belum puas Amir bertanya lagi "Sebelumnya kita sudah pernah kenal belum sih?"
"Kamu kakak kelasku, waktu di SMA, kamu aktif di OSIS kan? Lalu aku lihat kamu lagi di Perpustakaan Kampus, beberapa kali aku lihat kamu di sana"
"Oh ya?"
"Yup, aku tidak mudah melupakan wajah orang, jadi waktu aku lihat kamu di Perpus aku langsung tahu kalau kamu kakak kelasku di SMA"
"Ooo begitu ya"
"Iya, makanya pas lihat kamu di pinggir jalan aku tidak sungkan membawamu ke Rumah Sakit, dan setelah itu aku lihat kamu lagi di pertigaan deket kampus"
"Koq aku bisa tidak tahu ya kalau aku punya adik kelas seperti kamu"
"Seperti aku? Maksudnya?"
Amir hanya senyum "Tidak ada maksud apa-apa yee" ia malu sendiri dan mulai salah tingkah, untunglah ia teringat kalau ada sesuatu yang harus diberikan kepada Ifa
"Oh iya, ini Fa, terima kasih ya"
"Apa ini?" Ifa tidak langsung mengambilnya
"Ambil saja, itu uangmu"
Ifa memasang ekspresi bertanya
"Aku bayar hutang pengobatanku dulu, kan aku sudah bilang aku akan menggantinya, sesuai seperti yang ada di bill, tapi maaf baru bisa aku bayar sekarang"
"Ih, apa-apaan sih, aku.."
"Sudah Fa, terima saja" Amir memotong kata-kata dan menyodorkan amplop tersebut lebih dekat ke Ifa, "Aku pulang dulu ya, see you tom" katanya lagi
Ketika Amir sampai di rumah kontrakannya yang sederhana ia mendapati sebuah mobil ber plat B di depan rumah. Keluarga papa, mereka ke sini? wow
Tok.. tok..
"Eh Amir, sudah pulang" Tante Cida menyongsongnya, rumahnya yang sempit menjadi sangat penuh dengan kehadiran Tante, Om serta Nenek dari Papa. Mereka mengungkapkan penyesalannya karena tidak bisa datang di hari pemakaman Mama, mereka pun sudah tidak mau lagi membahas hal-hal yang telah lalu, dan yang lebih penting mereka ingin membawa Papa, Nisa dan dirinya untuk tinggal bersama mereka
"Papamu bisa dirawat lebih baik Mir, Tante akan mengantarnya terapi setiap hari agar bisa segera pulih"
Amir melirik Nisa yang duduk disebelah Nenek, terlihat pancaran kebahagiaan diwajah adiknya, harapan akan kehidupan yang lebih baik
"Kamu bisa lanjutin kuliah kamu lagi Mir, atau kerja di kantor Om" Om Bagas pun ikut merayu. Ada sedikit penolakan dalam diri Amir, tapi kesehatan Papa lebih penting, ia pun mengiyakan permintaan mereka
~~~~
"Haloo"
"Halo"
"Kenapa? Tumben nelpon malam-malam"
"Mmm.. ngga papa, memangnya ngga boleh?"
"Hehe.. ya boleh aja sih"
"Fa.."
"Iya"
"Kamu.."
"Apa?"
"Bapak kamu tukang air ya?"
"Memang kenapa?"
Mereka kembali bertingkah seperti Nunung dan Sule
"Habis.. kamu telah membanjiri hatiku"
"Hahaha.. gombal banget sih"
"Fa.."
"Sudah ah males"
"Kali ini serius"
"Oooh, iya.. kenapa"
"Aku mau resign..."
Amir menceritakan yang tadi sore terjadi, entah kenapa tiba-tiba ia tidak mau berpisah dari Ifa, baginya Ifa seperti Malaikat yang diturunkan Allah ke bumi untuk memberinya tenaga dan solusi dalam memecahkan permasalahannya. Selama ini mereka memang hanya berteman biasa, dan baru saat inilah Amir merasakan bahwa ada perasaan lain selain itu
"Jadi, kamu mau pindah ke Jakarta?"
"For our own good Fa"
"Iya aku mengerti"
Hening untuk beberapa saat
"Ya sudah kalau begitu, sudah malam nih, aku mau tidur"
"Oh iya deh, maaf ya sudah mengganggu"
"Ngga juga, sudah ya.. duduu"
Ifa menutup telpon cepat-cepat, ia tidak mau Amir menangkap kesedihan dari suaranya
~~~~
Keesokannya ia datang ke kantor untuk mengundurkan diri, ia mengucap banyak terima kasih kepada Ayah Ifa yang telah begitu baik kepadanya lalu ia pun pamit. Dengan mengendarai angkutan umum ia menuju rumah Ifa, tetapi Ifa tidak ada
"Kemana ya Mbok, hari ini bukannya tidak ada jadwal kuliah?"
"Aduh Mbok ngga tahu, Non Ifa pergi dari tadi"
Ia mencoba menghubungi lewat telepon tetapi Ifa tidak menjawab
~~~~
Assalamu'alaikum Fa.. Kamu kemana saja sih? aku mau pamit tapi kamunya tidak ada, aku sudah di ruang tunggu di airport nih, Papa dan Nisa terlihat bahagia, mudah-mudahan semuanya kembali normal ya, Amin..
Eh iya Fa tadi aku mendengar lagu yang liriknya kurang lebih seperti ini :
Aku menangis, kamu menghapus air mataku
Aku bingung, kamu
menjernihkan pikiranku
Aku menjual jiwaku, kamu membelinya kembali
Dan merengkuhku juga memberiku martabat
Entah bagaimana kau membutuhkan aku
Kau memberiku kekuatan, untuk kembali berdiri
Untuk menghadapi dunia dengan diriku apa adanya
Kau menempatkanku di tempat tinggi, di atas tumpuan
Begitu tinggi sampai-sampai aku hampir bisa melihat keabadian
Kau membutuhkanku, Ya.. Kau membutuhkanku
Dan aku tidak bisa percaya itu kamu, aku tidak percaya itu benar
Aku membutuhkanmu dan kau ada di sana
Dan aku tidak pernah meninggalkan, kenapa aku harus pergi? aku akan menjadi orang bodoh
Karena akhirnya aku menemukan seseorang yang benar-benar peduli
Kau memegang tanganku, ketika dingin
Ketika aku tersesat, kamu mengantarkanku pulang
Kau memberikanku harapan, ketika aku dipenghujungku
Dan mengembalikan hidupku lagi kepada kebenaran
Kau bahkan memanggilku teman
Aku menjual jiwaku, kamu membelinya kembali
Dan merengkuhku juga memberiku martabat
Entah bagaimana kau membutuhkan aku
Kau memberiku kekuatan, untuk kembali berdiri
Untuk menghadapi dunia dengan diriku apa adanya
Kau menempatkanku di tempat tinggi, di atas tumpuan
Begitu tinggi sampai-sampai aku hampir bisa melihat keabadian
Kau membutuhkanku, Ya.. Kau membutuhkanku
Dan aku tidak bisa percaya itu kamu, aku tidak percaya itu benar
Aku membutuhkanmu dan kau ada di sana
Dan aku tidak pernah meninggalkan, kenapa aku harus pergi? aku akan menjadi orang bodoh
Karena akhirnya aku menemukan seseorang yang benar-benar peduli
Kau memegang tanganku, ketika dingin
Ketika aku tersesat, kamu mengantarkanku pulang
Kau memberikanku harapan, ketika aku dipenghujungku
Dan mengembalikan hidupku lagi kepada kebenaran
Kau bahkan memanggilku teman
Aku jadi teringat kamu, makasih yaa kamu selama ini sudah baiikkk banget, kapan-kapan aku boleh ya main ke rumahmu, tapi tidak dalam waktu dekat sih, karena aku mau mengurus kuliahku, aku juga maunya sambil kerja biar bisa menabung untuk... eeee... melamar kamu terus nikah. Boleh ga?? Boleh ya.. hehe.
Eh sudah dulu ya, sebentar lagi aku mau masuk pesawat nih. Duh belum-belum sudah kangen sama kamu. See you Later Ifa.
Wassalam
Ifa membuka notifikasi tanda email masuk, ia tersenyum tetapi matanya berkaca-kaca. Jarinya menekan tombol reply dan mengetikkan satu kalimat singkat
Oke, ttdj, kumpulin uang yang banyak ya.. buat resepsi dan honeymoon ke Eropa :P
You Needed Me – Boyzone Song Lyrics
Awwww coo cwiiiittt (。'▽'。)♡
ReplyDeleteCara ngelamarnya itu loh, maksa dikit ngahahaha.
Penonton puaaassssss \^.^/
anda puas, saya lemas.. *dalam artian yang sebenarnya, mau tidur aahhh :P
DeleteKata "ketika" ke tulis dua kali..
ReplyDelete:-P
Mana mana mana? Ga bisa ngedit udah tutup lappy.. Hoammm zzzz
DeleteMaksudmu "Ketika" di lagunya ya? Emang di liriknya begitu, pake "When" berdekatan, aku ga dapet kata pengganti yang lain :P
Deletetumpuan Amir ketika ketika mereka
Deleteouh yeaa.. wiih teliti banget nihh :)
Deletekan dibaca semua :-)
Deletewah.... endingnya mantap sekalinie.. di tunggu tunggu ternyata emang makyus endingnya. tapi sikap juteknya itu beralasan juga tu. wah kalau baca cerita gini jadi gemes, pengen jadi tokohnya.
ReplyDeleteMaknyus ya? Syukurlah.. Kalo ga maknyus dilemparin blogger kali yaaa huhuh, iya abis menyebalkan sih tantenya :D þεngεn jadi siapa? Bude Susan? :P
DeleteWow... cuit cuit... mestinya gak usah tamat mbak. Ceritanya langsung lompat dimasa hanimun di eropa aja, biar romannya makin jadi.
ReplyDelete*abaikan*
Cerbung terus gitu? :D nanti pembaca keburu bosen bloggernya pada ga sabaran mba orangnya, maunya cepet" kelar *yok kita ngegosip hehe
DeleteWah the end ya mbak.... semoga bisa hanimun ke eropa deh ^^
ReplyDeleteDiaminkan untuk diriku ya mba ;)
Deleteoalah ditinggal resign malah selanjutnya dituntut melamar... amir makin stress deh
ReplyDeleteStres" bahagia gimanaa gitu :)
DeleteTerharu hehehe...
ReplyDeleteIfa jgn nangis deh. Ntar tunggu aa' ngelamar ya :D
*ulurin tissue* Aa? Anak ayam ya :D ^^V
DeleteAsik deh :) ceritanya muantap
ReplyDeleteMantaff pake F
Deleteahahaha... ya sidah deh MUANTAFFFFF :))
Deletewahaha.... "cinta" seperti apa sih -__-", habis baca ini kok jadi ngiri, haha..
ReplyDeleteCinta itu seperti udara yang manusia tak bisa hidup tanpanya *aishh
Deletehuh ... lega ... :D
ReplyDeleteakhirnya khatam juga nih cerita, hmmm, manis banget ya endingnya, hihihy, jadi pengen ...makan pisang, wekwewww :p
Dasar ga sabaran, orang mau dibikin 200 episod juga, sono makan pisang bareng temen"mu :P
DeleteNah, kan ada rencana nikah juga! Bhahaha, pake lagu boyzone yg you need me, amir bener2 kelewat pede! Sbenernya siapa ngebutuhin siapa, sih? Huhuhu, but it's happy ending and so sweet, beib! Bhahaha *four thumb
ReplyDeleteBaru rencana belom tεntυ jadi #penggalauan
DeleteKata Amir : Gpp PD daripada minder
Beib?? MAKSUD? *langsung laporan sama misua :P
:D nungguin tamat banget yak
ReplyDeleteSipp sama"
jadi nanti saya akan mengusung ifa sebagai istri dan honeymoon dieropa. makasih makasih banget yah mbakk :D *apaan*
ReplyDeletememang kamu Amir?? :P
DeleteSuatu artikel yang bagus, penuh inspiratif, sukses untuk sahabatku
ReplyDeletesangat bermanfaat dan punya makna
terimakasih sobat, ditunggu yah
iyah
Deletewah mantebss, jadi ikut terharu huhuhu....
ReplyDeletehappy blogging
happy blogging too
Deletesungguh membuatku terharu dengan cerita tersebut....
ReplyDeletedi sa'at hati mulai merasakan gejolak cinta, perpisahan yg harus jd rintangan...
semoga saja mereka bisa bersatu....
:)
kalau ada rintangan tapi bisa melalui malah lebih berkesan :D
Deletehappy blogging..
ReplyDeletei like this artikel..
me too
DeleteAku dengerin dulu lagunya
ReplyDeletesok atuh
Deleteini sudah pernah dipublikasikan di media cetak belum kak??? ceritanya bagus.....
ReplyDeleteBelum Chie, makasih :)
Deletewaduh bnyk banget tulisannya,pokokoknya saya support kamu deh
ReplyDeletekalau ga baca dari awal memang males, okeh deh
DeleteMakasih sharenya sob. Mari kita terus berbagi... :)
ReplyDelete:)
Deletetulisannya bagus + sesuai dengan backsound so sweet moment
ReplyDeleteterima honor eh terima kasih maksudnya
Deletehmm.. akhirnyaa tamat juga.. hehe..
ReplyDeletekapan mulai lagi ceritanya??
*lho?
mau soto bangkong gak?? hehe
nanti mulai lagi, tapi dibaca yaa :P
Deletekalau kodok beneran ga mau :D
Hahaha... akhirnya minta dilamar juga :D
ReplyDeletega minta koq, tapi nunggu :)
Deletehoneymoon ke eropa ? ke garut ae
ReplyDeleteke garut? Sampireun? waw asik tuh
Deleteayey, honeymoon ke eropa.. hahahahhaa.. aduuuhh, harusnya gk baca nih ending, bikin mupeng aja.. emang tempat yang bagus di eropa untuk honeymoon dimana fa?? #eh :D
ReplyDeletebuanyak Dhe, tempatnya romantis.. halaaah sotoy :P
Deleteaha -__-
ReplyDeletemaniss banggetzzd ^^ hihi ;)
siapa? saya? *dijitak*
Deletebaca postingan di atas terus sambil dengerin musik ini bener bener ajib dech :D
ReplyDeleteADMIN " variasi blogger "
sambil makan kue lebih ajib hehe
Deletewaduh honeymoonnya jauh banget nih... akhirnya selesai juga... good story nih.. seneng bacanya..
ReplyDeletenungguin tamat banget yee kesannya :D
Deletesaya suka jawaban Ifa di ujung karangan. kebayang ekspresi mengharu biru si Amir.
ReplyDeleteswit meriwit banget kan hehe
Deletebikin cerpen dengan kecerdasan begini, bikin pengin baca lagi. ayo dong MBak, saya tunggu lagi.
Deleteiya Insya Allah kalau ada lagi moodnya hehe
DeleteMenarik sekali ceritanya mba... diakhiri dengan ending yang apik. :)
ReplyDelete:) makasih mba
Deletehuwaaahhh bgian 3-4 kayaknya aku kelewatan dehh...huuuu entar datang lagi, mo kekampus dulu,,,,huhu
ReplyDeletesiippp *kasih jempol 2
DeleteHmmm... ini ending ya?
ReplyDeleteiya
DeleteNggak nyangka endingnya bisa begini. Imajinasinya seruuu
ReplyDeletehehe
Deleteterharu biru ni bacanya,, tapi gak nyangka kalau gaya katakan cintanya scara tidak langsung gitu, kata-kata lewat email walaupun sebatas candaan tapi langsung kena di hati,, mantaaaap sobat :D
ReplyDeleteiya saya juga terharu huhuhu
Deletesemoga sukses ya karirnya
ReplyDeletekunjugan balik ke saya ya
okay
DeleteHaduuhhhh,ketinggalan kereta nich...eh ceritaa.
ReplyDelete:'( kayak kisahku waktu bujang dulu mbak.xixixi
masaaa?? duh nyama2in aja :P
Deleteendingnya terlalu apik..
ReplyDelete:P
penonton eh pembaca sukanya begitu
Deletemampir lagi kesini sobat :D
ReplyDeleteHahaha akhirnya aku baca tamatnya.
ReplyDeleteWaw, ciye ciyeee...
Udah mau nikah aja mereka hihihi @_@
horee tamaattt (^_^)/
Deleteakhirnya :)
ReplyDelete:)
Deletelagunya enak euy,,,,
ReplyDeleteceritanya asik,ga bikib bt bacanya,,,
ReplyDeletetema nya ok,banyak yang bisa kita ambill
ReplyDeleteaku pasti datang buat kamu,tunggu aja
ReplyDelete