Quote Me Today

Wahai diri akan dibawa kemana kaki ini nanti? Ke arah onak berduri atau hamparan indah yang menyenangkan hati?

26.7.12

Makan untuk hidup

Temans, sebelas bulan kita diberikan kebebasan untuk makan dan minum kapan pun kita mau, lalu di satu bulan yaitu bulan ramadhan, seperti saat ini, kita dilatih untuk menahan diri, ditentukan oleh Allah kapan waktu makan dan kapan waktu minum, seperti Allah menentukan kapan waktunya shalat.

Seharusnya dengan puasa, makan kita lebih sedikit dan teratur. Tapi kenyataannya, kadang waktu berbuka kita jadikan sebagai ajang balas dendam, menyiapkan segala macam jenis makanan di meja makan. Lalu dengan 'kalap' kita memakan semuanya. Padahal perut kita ini sudah punya settingan sendiri, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman lalu ada sepertiga yang lain untuk kita bernapas. 
“Tidak ada ‘bencana’ yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya sendiri. Cukuplah seseorang itu mengonsumsi beberapa kerat makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Kalau terpaksa, maka dia bisa mengisi sepertiga perutnya dengan makanan, sepertiga lagi dengan minuman, sepertiga sisanya untuk nafas.” (HR. Ahmad, Al-Tirmidzi, dan Al-Nasa’i).
Tetapi kita, yang berpikir bahwa seharian sudah menahan lapar dan dahaga tidak mempedulikan hal tersebut. Kita masukkan semua itu ke dalam perut kita, alhasil perut kita penuh, untuk bergerak saja tidak bisa, apalagi untuk shalat isya dan tarawih berjama'ah. Yang ada kita malah jadi mengantuk.

Seharusnya di bulan puasa makan kita lebih sedikit sedangkan ibadah kita semakin bertambah. Bukan sebaliknya, banyak makan dan banyak nonton acara khusus Ramadhan yang lucu tapi sebenarnya tidak lucu itu.

Hmm... mudah-mudahan dengan berpuasa kita lebih menyadari ya bahwa sebenarnya kita makan untuk hidup bukan hidup untuk makan :)