Quote Me Today

Musibah yang kamu rasakan hanya seujung kuku, nikmat yang kamu dapatkan seluas samudra.

22.11.15

Ketika 'IYA' Menjadi Sebuah Pertimbangan Panjang

Hari ini seharian terpampang berita seorang selebriti yang baru saja menikah. Pernikahan mewah berlatar kontroversial, yeah orang-orang menyebutnya begitu karena si selebriti dinilai ‘not even good looking’ menikahi seorang pria tampan dan umurnya jauh lebih muda dari si selebriti itu sendiri. Si pria tampan dianggap menikah hanya karena harta, aku pun sempat berpikiran sama. Ups maaf kalau aku jadi ikut-ikutan memberikan penilaian sadis.

“Naaah mereka saja bisa menikah dan bahagia. Kenapa kamu tidak? Kapan sih kamu mengambil keputusan untuk mengiyakan permintaan mas Chandra?!”

Kakakku sedang merintis menjadi seorang model, andai memiliki rupanya mungkin aku juga akan berusaha menjadi model atau selebritis. Sayangnya, wajahku ini biasa saja, postur tubuh juga tidak terlalu tinggi dan... mungkin agak sedikit gemuk untuk ukuran seorang model.

“Lapar Kak?” Dia mengelus-elus perutnya, tipikal kalau sedang lapar.

“Sudah makan buah tadi.” Itulah rahasia tubuh langsingnya, mengkonsumsi protein, karbohidrat atau lemak hanya dengan porsi sedikit. “Kamu jangan mengalihkan pembicaraan ah. Tahun depan kita sudah tidak punya tabungan untuk memperpanjang sewa rumah. Pendapatanku belum banyak yang bisa disisihkan apalagi gajimu yang hanya sebagai guru.” Ketika berbicara denganku dia bisa begitu ‘sarkasme’ tapi berubah seratus empat puluh derajat apabila sedang bersama agen modelling atau teman-temannya di luar sana. Tidak apa-apa sih toh aku sudah terbiasa. “So?

Aku mengangkat bahu, “what?

Ck!” Ia berdecak sebal, “mas Chandra bagaimana?”

“Ooo... entahlah. Aku tidur dulu ya.”

“Tuhkan selalu seperti itu, ini menyangkut masa depanmu Eliana Putri Manggaru!” Dia masih mengoceh ketika aku masuk kamar tapi suaranya teredam dinding, maaf ya kak kepalaku selalu pusing ketika membicarakan mengenai mas Chandra. Hmm beliau itu lebih cocok dipanggil Pak daripada Mas karena umur kami terpaut tiga belas tahun.

Selamat malam Na. Sudah tidurkah?

Panjang umur, baru saja dibicarakan pak Chandra sudah mengirim pesan.

Saya hanya ingin memberitahu kalau besok Kevin tidak masuk sekolah karena ada urusan keluarga, ingin menjemput Damira. Tidak apa-apa kan?

Seorang murid berprestasi dengan keluarganya sebagai salah satu penyumbang dana sekolah meminta izin untuk tidak masuk? Ya tentu saja tidak apa-apa!

Boleh kok... besok saya beritahukan ke Miss Fatma selaku wali kelasnya ya.

Terimakasih Na, kamu sedang apa? Saya mengganggu ya?

Aku sedang pusing memikirkan pertanyaanmu minggu lalu yang hanya terdiri dari empat kata, ‘maukah kamu menikah denganku?’

Baru hendak tidur nih, besok saya mengajar pagi.

Mungkin salahku yang seperti memberi harapan, pertemuan-pertemuan kami kemarin di luar jam sekolah memberi kesan bahwa hubungan kami bisa lebih dari pertemanan.

Ooh baiklah kalau begitu, selamat beristirahat ya Na.

Selama mengenalnya aku mendapat kesan kalau pak Chandra bukanlah playboy atau don juan. Beliau kharismatik, mungkin perjalanan hidupnya membuatnya sangat dewasa dan bijaksana. Ia tidak pernah mengatakan mencintaiku atau merayu dengan sejuta kata-kata gombal tapi ia begitu perhatian, sikap apalagi matanya menunjukkan kalau perasaan itu memang ada. Hhhfff... andai perbedaan umur kami tidak terlalu jauh mungkin aku akan dengan senang hati menjawab pertanyaannya itu.

Haloo sayangku yang cantik, sudah tidur belum? Aku ingin menelpon nih. Kangen berrraattt.

Kalau yang ini aku tergila-gila. Pria tampan, keren dan hanya lebih tua dua tahun dari ku.

Kamu di mana? Aku belum tidur and available to phone call.

Pesanku terbaca dengan cepat dan secepat itu pula handphone ku berbunyi. Romeo is calling.

~OOO~

“Na, aku mau ke Batam sampai tiga hari ke depan.”

“Ada event Kak?”

“Yup, photo session sekaligus peresmian butik baru. Tidak semua sih hanya aku, Prilia, Dimas, dan Romeo. Masih ingatkan dengan mereka?”

“Masih,” apalagi dengan Romeo, tanpa kakakku ketahui bahwa temannya itu telah menjadi pacarku. Romeo meminta agar hubungan ini dirahasiakan terlebih dahulu.

“Kenapa senyum-senyum begitu?” Katanya sambil mengalungkan ID Card bertuliskan Arsyana Dara Manggaru.

“Ah tidak apa-apa. Jadi selama tiga hari ini aku boleh memakai mobilmu kan?”

Ia sudah selesai berkemas, kopernya yang menggembung kepenuhan diangkatnya dengan susah payah ke ruang tamu. “Minta jemput saja sih dengan mas Chandra.”

Mendengar nama itu semangat pagiku berkurang sekian persen.

“Beliau sedang menjemput anaknya.”

“Wooww sepertinya lancar nih komunikasi kalian.”

Dibalik sikap Arsyana yang menyebalkan aku tahu kalau ia hanya menginginkan yang terbaik untuk kami berdua. Setelah kepergian mama dan papa dalam kecelakaan pesawat otomatis kami menjadi anak yatim piatu. Om dan tante hanya peduli ketika warisan peninggalan mama papa dan uang asuransi ganti rugi masih ada. Setelah kami lulus kuliah keluarga besar mama papa kompak ‘mengusir’ kami dari rumah-rumah mereka, katanya sudah cukup kami dimanja dan sekarang waktunya mencari uang sendiri.

“Tintiinn...” Suara klakson mobil terdengar pertanda jemputan dari agency model tempat kakakku bernaung sudah datang.

Ia membuka pintu tepat ketika Romeo hampir mengetuknya. “Romeo? Mau apa? Menjemput aku?”

“Eh... eee... mau menumpang ke kamar mandi.”

Sebisa mungkin aku menyembunyikan tawa. Tentu saja kakakku bingung melihat Romeo berdiri di pintu rumah karena ritual jemputan biasanya hanya membunyikan klakson tanpa satu orang pun turun dari mobil.

“Kamar mandinya di sana, mari aku tunjukkan.” Romeo mengikuti langkahku. Ia mengedipkan mata ketika memasuki kamar mandi, membuat pipiku merona.

Arsyana mengangkat kopernya yang berat ke bagasi dan langsung duduk di dalam mobil. Romeo keluar dari kamar mandi dengan senyum mengembang. “Aku hanya tidak tahan untuk tidak bertemu denganmu my sweety.” Hampir pingsan mendengar kata-katanya kalau saja suara klakson tidak kembali terdengar, beberapa orang di dalam mobil memanggil Romeo termasuk kakakku. “Sampai bertemu minggu depan yaa.”

Call me.” Ia merespon permintaanku dengan kembali mengedipkan mata. Pagiku menjadi lumer dengan cinta. Tapi moment itu tidak berlangsung lama karena harus cepat berangkat. Sekolah Dasar International tempatku mengajar terkenal disiplin tidak hanya pada muridnya tapi juga kepada para guru. Mereka sangat menjaga kredibilitas sekolah. Aku tidak keberatan dengan hal itu karena ketika menetap di rumah om dan tante mereka pun memperlakukan kami bagai prajurit perang. “Kedisplinan adalah kunci kebahagiaan, bagai sebuah investasi untuk masa depan.” Kata om Syahril entah ia mengutip dari mana.

Berbicara mengenai investasi jadi teringat kalau sore ini ada janji dengan marketing financial. Kakakku benar bahwa gajiku tidak seberapa tapi belajar dari pengalaman kemarin ketika kami menjadi yatim piatu berlimpah harta namun berakhir dengan habis untuk membiayai hidup kami, aku memutuskan untuk menyisihkan sedikit pendapatan di investasi atau deposito, entahlah yang mana karena belum terlalu mengerti kelebihan dan kekurangan antara keduanya.

Morning Miss Eliana.” 

Aku sampai di sekolah bertepatan dengan bunyi bel tanda pagar akan segera ditutup. Satu hari lagi terlewati dengan penilaian baik, sebulan lagi raport penilaian akan keluar dan menentukan apakah aku akan menjadi guru tetap atau tidak. Sebagai guru kontrak di sekolah ini saja pendapatanku sudah lebih besar daripada guru kontrak di sekolah lain, apalagi kalau menjadi guru tetap. Uang sewa rumah mungkin tidak akan membebani kami lagi.

~OOO~

Pertemuanku dengan si marketing financial terpaksa batal karena tiba-tiba saja kepala sekolah memanggil.

“Silakan duduk Miss Eliana.”

“Baik Pak.” Dengan tegang aku duduk di hadapan Pak Sutopo.

Agak lama ia diam dengan dahi berkerut, membiarkanku duduk seperti pesakitan sampai akhirnya ia berkata, “Sebenarnya urusan pribadi seorang guru bukanlah tanggung jawab pihak sekolah, tapi hal itu bisa memicu masalah ketika guru-guru lain membicarakan guru tersebut di belakangnya, mengungkit-ungkit perihal moral sampai mendesak pihak sekolah untuk bertindak.”

Kalimat implisit yang tidak dapat aku simpulkan maksudnya.

“Sebelumnya saya ingin bertanya apa benar Miss Eliana menjalin hubungan dengan salah satu wali murid?”

Aku menghela nafas, mulai tahu arah pembicaraan ini. “Saya termasuk guru yang dekat dengan wali murid Pak. Terkadang mereka menghubungi saya untuk menanyakan perkembangan anak-anak mereka.” Jawabku normatif.

“Tapi di antara wali murid itu adakah yang paling dekat dengan Miss Eliana?” Dahinya semakin berkerut, mungkin di lain kesempatan yang agak santai aku bisa mengusulkan botox agar penampilannya tetap terjaga.

“Maaf Pak, saya kurang mengerti arah pembicaraan ini. Sebenarnya apa yang merisaukan Bapak dan guru-guru lain?”

“Ehmm... ada aduan yang masuk ke saya bahwa... Miss Eliana berhubungan dekat dengan Pak Chandra, walinya Kevin.”

Walaupun aku sudah menduga tapi tetap saja ada yang mencelos di hati, aku memikirkan raport penilaian.

“Pak Chandra sangat menyayangi cucunya, beliau memantau Kevin dengan bertanya kepada saya...”

“Tapi Miss Eliana kan bukan wali kelas Kevin.” Nada suara Pak Sutopo masih tenang walau kalimat itu menohok.

“Baik Pak saya minta maaf kalau itu dianggap melanggar peraturan sekolah.”

“Oooh tidak, itu bukan masalah untuk saya tapi kedekatan kalian secara personal yang menjadi masalah. Bahkan saya mendengar bahwa pak Chandra telah melamar Miss Eliana. Apakah itu benar?” Aku menciut di kursi panas. “Begini Miss... saya mengerti bahwa cinta atau perasaan itu tidak bisa diatur dan dibelenggu, tapi ada peraturan di sini bahwa para pengajar tidak bisa menikah dengan wali murid. Pilihannya hanya dua yaitu pengajar atau murid tersebut yang keluar dari sekolah ini. Miss Eliana pastinya paham kalau hal itu ditujukan untuk kebaikan bersama, agar tidak ada conflict of interest atau pilih kasih di sesama murid. Saya menyayangkan apabila Miss Eliana sampai harus keluar dari sekolah, menurut catatan yang saya dapat dari bagian administrasi Miss Eliana termasuk pengajar yang berdedikasi tinggi dan mempunyai masa depan yang cerah di sekolah ini.”

Aku hanya menunduk dan diam mendengarkan, entah ia tahu apa tidak kalau kata-katanya menguras sisi emosionalku. Sekuat tenaga aku menahan air mata sampai Pak Sutopo menyilakan aku pergi setelah kalimat-kalimat panjangnya.

Dari Fatma aku mendapat informasi bahwa pihak sekolah benar-benar mempertimbangkan keberadaanku, katanya bahkan sekolah mengkategorikan hal ini sebagai skandal walaupun Pak Sutopo sudah menyiapkan surat referensi dan rekomendasi ke sekolah lain karena track record ku sebagai pengajar dinilai baik.

“Pak Chandra sudah menduda sangat lama. Damira ibunya Kevin pernah mengatakan bahwa mereka telah menjodohkannya dengan beberapa wanita tapi pak Chandra menolak. Sudahlaah terima saja lamarannya.” Dibanding guru lain Fatma memang teman yang paling dekat. “Beruntung banget deh elu Na, ibaratnya seperti kejatuhan durian runtuh.”

“Sakit doong... yang ada gue luka-luka tertimpa durian runtuh.” Jawaban kekiku disambut tawa oleh Fatma.

“Ya sudah terserah elu mau menerima beliau atau tidak, tapi yang harus jadi pertimbangan adalah karier elu di sini sudah tidak lama lagi. Feel sorry to say but it is true.”

~OOO~

“Maaf Mbak bisa diulang penjelasan mengenai kerusakan aset-aset berwujud tadi?” Sebenarnya malu berkata seperti itu, tapi lambaian tangan dan senyuman pak Chandra di balik pintu kaca mengganggu konsentrasiku dalam mendengarkan presentasi yang dibawakan marketing asuransi properti. Untungnya mereka dengan sabar mengulang semua informasi yang dibutuhkan apalagi aku baru dalam bidang ini. Setelah ‘pemecatan secara terhormat’ dari sekolah, pak Chandra menghubungiku dan menawarkan pekerjaan di salah satu perusahaannya. Beliau mengetahui semua yang terjadi melalui Fatma dan kembali melamarku.

“Maaf Pak untuk saat ini saya tidak bisa menerima lamaran Bapak.” Jawabku saat itu. Saya bukan gadis matre yang rela ‘menjual diri’ demi sebuah kenyaman, tambahku dalam hati. Beliau dengan legowo menerima alasan itu. Berbeda dengan kakakku tersayang yang begitu marah ketika aku menceritakan penolakanku dan bertambah marah ketika mengetahui bahwa aku berpacaran dengan Romeo.

“Ya ampun Naaa... kamu tidak tahu bagaimana Romeo ituu... Argghh... Dia itu player. Ceweknya banyak!” Kata-katanya mengingatkan kepada salah satu motivator yang berkata bahwa pria pintar merayu adalah pria yang tidak baik karena telah mempraktekkan rayuannya ke banyak wanita. “Better kamu tinggalkan dia sekarang karena aku tidak mau kamu patah hati. Sudah kehilangan pekerjaan patah hati pula. Mau jadi apa?!” Sarkasnya lagi.

“Baik Mbak akan saya diskusikan dahulu dengan pimpinan dan segera saya kabarkan hasilnya ya.” Aku menjabat tangan dua orang marketing itu, menunggu mereka membereskan bahan presentasi dan mengantar sampai ke pintu lift.” Dari jendela kaca aku melihat matahari yang mulai jingga. Di bawah sana jalan arteri sudah padat dengan kendaraan, para pekerja saling mendahului untuk pulang ke rumah.

“Bagaimana hasilnya?”

Suara lembut itu sedikit mengagetkan, aku belum terbiasa bekerja sebagai asisten sekertaris di perusahaan multi nasional, belum terbiasa bekerja di gedung tinggi dan juga belum terbiasa dengan seseorang yang belakangan ini membuat dadaku berdegup lebih kencang bila sedang berada di dekatnya.

“Presentasinya sangat memuaskan, mereka menawarkan begitu banyak profit dan kemudahan. Secara pribadi saya bahkan berencana untuk menanamkan investasi.”

“Oh ya?”

Aku mengangguk, “Deposito berjangka atau investasi di logam mulia. Tapi kalau melihat nilai tukar rupiah yang sering terdepresiasi sepertinya logam mulia lebih menjanjikan.”

“Wow kamu belajar dengan cepat ya. Berarti tidak salah kalau saya menawarkan kamu bekerja di sini.”

Kata-katanya membuat pipiku bersemu. “Ah Bapak bisa saja. Saya masih perlu banyak belajar.”

Ia mengangguk sambil berjalan menuju ruangannya, “Eliana... tawaran saya yang satu lagi masih berlaku. Saya tidak akan mengiming-imingi kamu dengan harta karena kamu tidak suka itu, tapi perasaan saya tulus kepadamu. Dan semakin ke sini saya semakin respect... and love.”

Untuk sepersekian detik aku merasa kalau jantungku berhenti berdetak. Setelah memutuskan Romeo, tidak ada lagi satu pria pun merayuku, sampai detik ini ketika mata itu menatap lekat bagai mengokohkan kata-katanya.

“Beri saya waktu satu bulan Pak.” Walau sudah mempunyai jawaban tapi sebelum aku mengatakan “Iya saya mau,” aku akan berhenti dari pekerjaan ini demi mencegah gosip-gosip yang tidak enak didengar dan dengan gaji yang telah aku sisihkan selama empat bulan belakangan aku akan membuka usaha mikro sehingga tetap mempunyai penghasilan sendiri. Aku ingin menikahinya karena cinta yang perlahan mulai tumbuh, bukan karena uangnya.

~OOO~

Happy anniversay first year Mas.” Aku mengeluarkan seloyang muffin dari oven. Harumnya menguar ke penjuru dapur. Mas Chandra tersenyum lebar. Ia pernah mengatakan kalau kue-kue buatanku sangat enak, bahkan tiap kali bertemu client bisnisnya ia tidak malu mempromosikan toko kue ku.

“Hmm pasti enak sekali, as usual.”

“Haha... coba dulu dong ini resep baru loh ada potongan apel di dalamnya, namanya Caramel Apple Muffin.”

“Nah kan dari namanya saja sudah ear catching. Aku pesan seratus cups untuk meeting minggu depan ya.” Kata-katanya semakin membuatku tertawa. 

Setahun sudah pernikahan kami dan aku semakin nyaman dengan hubungan ini. Walaupun ada kerikil kecil yang menghiasi jalan, kericil kecil berupa tanggapan sinis orang-orang yang menyimpulkan bahwa aku hanya menginginkan hartanya, tapi perlahan berjalannya waktu membuktikan bahwa aku bukan nyonya-rumah-istri-bos-kaya-yang-hanya-sibuk-bersosialita, aku membuktikan bahwa toko kue ku layak diterima masyarakat sehingga tidak perlu menadahkan tangan kepada suamiku dan mas Chandra cukup mengerti itu dengan memberikan nafkah dengan nominal yang ‘pantas’.

Kami memiliki harga diri masing-masing, cintaku tidak bisa dibeli dan ia pun tidak ingin membeli cinta karena kami sama-sama menyadari bahwa suatu hubungan yang berlandaskan materi hanya akan menyakiti.


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

4 comments:

  1. Replies
    1. Haiii Cyyiiinnn... baik Alhamdulillah, maaf yaa aku uda lama ga BW *,*

      Delete
  2. Waaaah.... keren cerpennya. Semoga menang ya

    ReplyDelete

leave ur track so i can visit u back :)