Kata orang kalau ingin menulis dengan baik harus membaca dengan baik pula. Hmm baiklahh saya (kembali) membaca. Lihat-lihat di website BukaBuku.com ternyata bukunya JK Rowling yang terbaru sudah Ready Stock. Log in dan langsung memesan, besok paginya sudah sampai, ihs cepat banget deh. Udah gitu agak surprise ketika dibuka eeh ternyata ada Tote Bag dan Key Chain nya, padahal kalo beli di tempat lain yang dapat dua merchandise itu hanya yang beli pas PO bukan ketika Ready Stock. Makasih BukBuk... ƪ(♥•*⌣*•♥)ʃ
By the way, pastinya sudah tahu dong siapa JK. Rowling itu? Dia adalah penulis dari serial Harry Potter.Tapi kali ini cerita yang disuguhkan bukanlah tentang dunia sihir atau khayalan imajinatif seperti itu, melainkan tentang kehidupan politik-bertetangga-hubungan-anak-orang-tua di sebuah kota kecil di Inggris, dan novel ini pun untuk Dewasa, bukan novel Remaja seperti HarPot.
Novel ini bertolak belakang banget deh dengan kehidupan si Harry. Menurut saya The Casual Vacancy ini lumayan berat (baik dari isi dan ketebalan), beda sekali dengan My Stupid Boss atau Pocong juga pocong (ya iyyalaah :D), tapi karena sedang bertekad untuk melahap buku, jadi buku setebal 593 halaman ini saya habiskan dalam beberapa hari ( (◑﹏◐) kalau baca Al Qur'an aja lama banget *jitak diri sendiri* )
Yah gitu deh sinopsis singkat dari buku ini. Terkadang saya gemas membacanya, ketika sampai di bagian anak vs orang tua, betapa mereka (anak-anak itu) begitu impolite. Terkadang saya tertawa ringan karena celotehan-celotehan yang tertahan, menggeleng-gelengkan kepala dan... terkadang berhenti karena harus mengerjakan hal-hal lain :P
Humm... saya suka alurnya, walaupun tidak terlalu jauh berbeda dengan novel Inggris kebanyakan. Tapi saya tetap takjub dengan cara JKR menghubungkan semua tokoh dalam novel ini.
Salah satu pelajaran moralnya adalah : kita harus benar-benar mendengar, agar bisa menjadi pembicara yang baik.
Novel ini bertolak belakang banget deh dengan kehidupan si Harry. Menurut saya The Casual Vacancy ini lumayan berat (baik dari isi dan ketebalan), beda sekali dengan My Stupid Boss atau Pocong juga pocong (ya iyyalaah :D), tapi karena sedang bertekad untuk melahap buku, jadi buku setebal 593 halaman ini saya habiskan dalam beberapa hari ( (◑﹏◐) kalau baca Al Qur'an aja lama banget *jitak diri sendiri* )
~ Perebutan Kursi Kosong ~
Cerita bermula ketika seorang Dewan Kota meninggal dunia secara mendadak. Yang ternyata kematiannya itu menjadi awal baru dari kehidupan kota tersebut. Begitu banyak kepura-puraan di kota itu, orang-orang yang tersenyum tetapi dalam hati mengutuk orang yang berdiri dihadapannya. Anak-anak yang diam saja atas perlakuan orang tuanya, namun dalam hati mereka membenci orang tuanya itu, bahkan muak dan berhasrat untuk menjatuhkan mereka. Hubungan antar tetangga di kota kecil yang indah -layaknya gambaran kota dalam dongeng- sebenarnya tidak seindah itu, justru bagai lahar yang bisa tiba-tiba menyembur dan menghancurkan apa pun yang menghalanginya. Dan Barry Fairbrother si orang yang meninggal tersebut adalah pembuka jalan bagi lahar-lahar itu.
Kematiannya meninggalkan sebuah kursi kosong di Dewan Distrik Kota, yang tanpa menunggu lama menjadi ambisi bagi orang-orang di sekitarnya. Beberapa orang berusaha menggantikan Barry yang peduli dan tulus, tapi orang-orang tersebut justru dijatuhkan dengan postingan-postingan singkat di milis resmi Dewan Kota, Barry berubah menjadi 'hantu' yang bahkan semasa hidupnya pun telah membuat jengkel pihak lawan.
Dan dengan apik JKR menutup cerita ini dengan kematian pula, kematian seseorang yang punya andil dalam kematian Barry Fairbrother di awal kisah.
Yah gitu deh sinopsis singkat dari buku ini. Terkadang saya gemas membacanya, ketika sampai di bagian anak vs orang tua, betapa mereka (anak-anak itu) begitu impolite. Terkadang saya tertawa ringan karena celotehan-celotehan yang tertahan, menggeleng-gelengkan kepala dan... terkadang berhenti karena harus mengerjakan hal-hal lain :P
Humm... saya suka alurnya, walaupun tidak terlalu jauh berbeda dengan novel Inggris kebanyakan. Tapi saya tetap takjub dengan cara JKR menghubungkan semua tokoh dalam novel ini.
Salah satu pelajaran moralnya adalah : kita harus benar-benar mendengar, agar bisa menjadi pembicara yang baik.

